Perilaku Kehidupan (Galau) di Sosial Media

Pagi ini terbangun tiba-tiba saya ingin sekali menulis hal ini. Teringat beberapa kejadian masa lalu dalam hidup saya. Yup, pahit manisnya hidup membuat saya yang dulu suka share apapun semenjak saya mengenal sosial media. Ternyata kesininya memberikan dampak juga ya kekehidupan nyata. Kehidupan dunia maya memang menyenangkan, bisa dibilang tempat yang tepat untuk melarikan diri dari kejenuhan dunia nyata. Continue reading

ODOJ pemersatu umat mencintai Al Quran

Akhir tahun 2013 gerakan ini mulai happening dikalangan umat Islam, yang tua maupun muda, bapak pekerja keras hingga ibu rumah tangga ikut menyemarakkan gerakan One Day One Juz. Pengalaman saya setelah mengikuti ODOJ, saya jadi lebih disiplin untuk membaca Al Quran, jujur dulu rasanya untuk membaca tiap lembar rasanya sangat berat, bahkan yang memalukan saya kadang hanya membaca per ain, bukan lembar. Memalukan, ya…
Continue reading

Sudahkah kita ikhlas?

image

Ya, seperti gambar di atas. Seperti apakah ikhlas itu? Coba baca surat Al Ikhlas. Surat ke-112 yang terdiri dari 4 ayat ini pasti sangat mudah dihafal, atau jangan-jangan surat ini adalah surat pertama yang kita hafal sewaktu menghafal surat-surat pendek untuk bacaan sholat?

Mengapa kita sebagai muslim harus meyakini surat tersebut? Karena jawabannya identitas Islam kita ada di sana. Yaitu ikhlas menerima fitrah dari sang Pencipta dan ikhlas mengakui bahwa Allah Maha Esa. Sudahkah kita ikhlas menerimanya? Padahal sewaktu masih tinggal di alam rahim seorang ibu kita sudah menandatangani kontrak hidup kita dengan Sang Pencipta.

Mungkin adalah waktu yang tepat memposting tulisan ini, sekedar pengingat saja sesama muslim karena itu salah satu dari tugas kita. Sampaikanlah walau satu ayat. Ngga asing dong dengan kalimat pendek tersebut. Okay. Masuk ke penjelasannya yang saya kutip dari buku Asbabun Nuzul karya Dr. Muhammad Chizrin. Beliau adalah Guru Besar Tafsir dan Ilmu Quran. Ini kutipan dari buku beliau mengenai surat Al Ikhlas.

Surah ini menegaskan beberapa sifat Allah. Ayat-ayat di atas mengajarkan kepada kita untuk menghindari perangkap yang telah menjerumuskan banyak orang dalam urusan ini. Sebab, begitu banyak manusia dari zaman ke zaman yang berusaha memahami Tuhan sesuai dengan pemikiran mereka. Sifat-sifat Allah itu begitu halus, jauh dari jangkauan persepsi dan pemikiran manusia yang sangat terbatas. Langkah terbaik untuk memahami Allah adalah dengan merasakan bahwa Dia adalah “Dia”, Pribadi, Person, dan bukan hanya konsep filsafat yang abstrak. Dia adalah Tunggal dan Maha Esa, Satu-satunya yang patut kita sembah; segala benda dan makhluk yang ada di sekitar kita adalah ciptaan-Nya, takvada sesuatu pun yang dapat diperbandingkan dengan Dia. Dia adalah kekal, tiada awal dan tiada akhir; Mutlak, tak terbatas oleh ruang, waktu, atau keadaan; Dia adalah Hakikat, sementara segala sesuatu selain Dia hanyalah bayangan atau pantulan. Kita tidak boleh berpikir tentang Dia sebagai anak atau bapak, sebab sikap itu berarti melekatkan sifat-sifat hewani ke dalam konsepsi kita tentang Dia. Dia tidak sama dengan person atau benda lain yang kita kenal atau dapat kita bayangkan. Sifat-sifat dan kodrat-Nya adalah unik, satu-satu-Nya.

Allâhu Ahad meniadakan konsepsi dan gagasan tentang politeisme, suatu sistem kepercayaan kepada banyak tuhan. Sistem kepercayaan itu berlawanan dengan konsepsi kita yang benar, karena kesatuan dalam rencana serta dalam fakta kehidupan yang sangat mendasar, menunjukkan adanya kesatuan Pencipta.

Allahu al-Shamad mengandung arti “kekal” dan “mutlak”. Kata itu meliputi beberapa pengertian. Pertama, wujud yang mutlak hanya disandarkan kepada-Nya. Segala wujud yang lain hanyalah sementara atau bersyarat. Kedua, Allah tidak tergantung kepada seseorang atau pun sesuatu. Sebaliknya, semua manusia dan segala sesuatu tergantung kepada-Nya. Pengertian itu meniadakan gagasan tentang tuhan yang banyak, tuhan yang makan dan minum, bertengkar, dan berkomplot, tuhan yang bergantung pada pemberian pemujanya, dan lain-lain. Tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Tak ada apapun seperti Dia, mengandung pengertian bahwa Allah adalah pencipta yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Dialah satu-satunya penguasa alam semesta dan seluruh ciptaan-Nya. Ayat terakhir merangkum semua argumen pada ayat-ayat sebelumnya, dan sekaligus mengingatkan kita agar tidak terjebak konsep dan ajaran palsu tentang tuhan, seperti kaum anthropomorphis, yang cenderung menggambarkan Tuhan sesuai dengan pemikiran manusia.

Dapat ditarik pelajaran berharga tentang keikhlasan menerima dari kutipan di atas. Dan saya yang masih bodoh ini akan terus belajar hingga maut menjemput dan terus mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga menjadi pengingat untuk kita semua dan mensyukuri nikmat fitrah dari Allah dengan ikhlas menerimanya dan mau mempelajarinya sesuai dengan ajaran yang sudah ada bukan mengada-ada. Semoga Allah terus merahmati kita dengan senantiasa berada di jalan yang lurus sesuai petunjuk-Nya.

Mlaku-mlaku : Mbatik

Sebenarnya tulisan ini mau diposting pas pulang dari rumah mertua. Entah kenapa baru ingat sekarang setelah tertumpuk di draft. Sewaktu berkunjung ke Pekalongan rasanya ngga afdol kalau ngga melihat proses membatik, sayang sekali tidak terlalu membaur waktu itu, dikarena saya juga sakit hampir seminggu dan harus benar-benar istirahat. Jadi mengganggu juga sih untuk melihat proses mbatik.

Tapi saya sempat mengintip sedikit prosesnya. Nah di Pekalongan memang banyak sekali kampung batik yang diantaranya ada di Buaran, Kauman, Pesindon, lalu ada juga Wiradesa, dan lain-lain. Saat itu sebelum sakit saya mampir ke Buaran. Rencananya ingin sekali menyaksikan proses membatik dari awal. Sayang sekali belum sempat, tapi di kesempatan ini hanya ini yang bisa saya bagikan ke teman-teman.

image

Gambar ini diambil di sekitar daerah Buaran, ini bukan gambaran langka di Pekalongan. Biasanya pengrajin batik menggunakan halaman rumahnya sebagai tempat untuk menjemur kain yang akan digunakan untuk membatik. Halaman rumah pengrajin biasanya memiliki banyak tiang-tiang yang terbuat dari bambu yang digunakan untuk menjemur batik. Ada juga yang memanfaatkan lapangan luas. Pengrajin juga memanfaatkan halaman belakang rumah sebagai tempat untuk membatik. Suasana di kampung batik ini khas, begitu memasuki kawasan ini, aroma obat batik yang khas sudah tercium dari pagi menandakan para pengrajin mulai beraktifitas.

Karena saya tidak sempat bertemu dengan pengrajin secara langsung, saya pun langsung mengunjungi Museum Batik dimana saya bisa mengorek-ngorek informasi cara pembuatan batik, kalau kalian berkunjung ke sana, akan ditemani oleh seorang pemandu yang akan menjelaskan mengenai bermacam-macam hal. Seperti nasib kebanyakan museum, museum ini cukup sepi pengunjung dari wisatawan umum, hanya saja ramai dikunjungi oleh sekolah-sekolah. Sayang sekali yah.

image

Suami saya juga merasa heran kok saya mau mengunjungi museum. Hehehe.. oke di museum ini kita tidak bisa sembarangan mengambil gambar, hanya di tempat-tempat tertentu saja diperbolehkan. Mungkin demi menjaga koleksi batik di museum.ini kali ya agar keasliannya terjaga. Beraneka ragam batik dipajang di sini, di dominasi oleh batik Pekalongan dan Cirebon, keduanya sangat eksotis. Di ruang pertama yang ditemui ialah koleksi batik dari kedua kota tersebut. Biasanya pembuat batik terinspirasi dari apa yang dilihat, sama seperti melukis. Para pengrajin menuangkan imajinasi dari hasil apa yang mereka lihat dikesehariannya melalui canting dan malam (lilin).

Gaya membatik pun sangat beragam dari berbagai daerah, ini yang memperkuat ragam batik yang ada di Indonesia. Setiap daerah tentu memiliki corak yang berbeda walaupun terinspirasi dari hal yang sama. Ini membuktikan masyarakat Indonesia, khususnya para pengrajin batik memang sangat kreatif. Kekayaan motif batik inilah yang bisa disaksikan di museum batik yang berada di tengah kota Pekalongan.

Mungkin sedikit dulu, anggaplah ini baru teaser, karena di bulan Januari, saya akan melanjutkan tulisan ini. Dan membahas proses membatik lebih lengkap lagi. Semoga saja berkesempatan pula melihat sekaligus mencoba membatik. Saya pun tak lupa membeli gantungan kunci dan bros berbentuk canting waktu itu. Biaya masuk ke museum ini standar tidak mahal, dijamin puas berkeliling melihat koleksi batik. Bahkan suami saja pun berkata, semoga aja kelak bisa menyumbang koleksi batik ke museum ini.

Cita-cita Seorang Ibu

Belakangan suka sekali memantau tweet dari ustadz @Yusuf_Mansur, karena isinya motivasi untuk mengejar menjadi penghafal Quran. Ada cerita haru dibalik ini semua. Sewaktu kemaren sebelum menikah hijrah ke Jogjakarta. Saya tinggal di sebuah rumah yang saya tempati (kos) yang tak lain dan tak bukan adalah rumah mertua sahabat saya. Mbak Fita namanya. Tulisan ini khusus saya dedikasikan kepada beliau yang saat ini sudah damai di dekapan-Nya. Semoga amal beliau terus mengalir tiada henti. Begini kisahnya,
Continue reading

Ketika Memasuki Bilik Baru Kehidupan

Selamat datang kehidupan baru, setelah 15 September lalu, kehidupan baru pun dimulai, tidak ada yang berbeda memang sewaktu masih sendiri, sama saja, hanya saja sekarang harus melayani suami.

image

Banyak sekali pembelajaran yang di dapat sewaktu berkunjung ke rumah mertua. Ini adalah tahapan lain juga dalam kehidupan rumah tangga, kelak yang masih sendiri merasakan kok.

Continue reading

Memulai Babak Baru

Akhirnya, status saya sudah berubah, tepatnya di tanggal 15 September 2013, pukul 08.00 pagi. Pagi yang hectic itu, semua kalang kabut, takut terlambat pergi ke masjid dan ketika menuju ke masjid untuk melangsungkan akad, tangan saya makin dingin, takut kalau saya tidak bisa menahan haru, karena saya orang yang cengeng, tepat, tamu undangan sudah memenuhi masjid, rekan kerja, sanak saudara, dan entunya tetangga hadir di situ, memang saya mengundang sedikit orang hari itu, karena saya ingin momen ini lebih intim saja. Continue reading

Mlaku-mlaku: 3 Bulan di Yogyakarta

Mungkin ini akan jadi agenda dalam hidup saya, dan moga saja. Karena hidup berpindah-pindah tempat banyak sekali mengajarkan hal yang belum tentu kita temui saat berdiam diri atau menetap di suatu tempat. Ya, setelah beberapa petualangan hidup yang saya lalui, kali ini saya mengenal dekat kota Yogyakarta, hanya bermodalkan “nekad” dan “passion” akhirnya 3 bulan sudah saya lalui hidup di kota ini. Bisa dibilang tinggal di Yogyakarta hanya untuk bersenang-senang saja.Dari pengalaman teman-teman bule saya yang suka traveling saya belajar, buat bertahan hidup ya harus bisa adaptasi. Untungnya Tuhan memberikan saya kemudahan dalam beradaptasi dimanapun tempatnya, dan kunci itu bernama “tidak mengeluh”. Kalau kita tidak mengeluh pastinya bisa kok tinggal dimanapun kita mau.  Continue reading