I hate you, sister!!!!

Dear God, boleh ngga kita marah, kesal, dan kecewa berat??? Terlebih kepada orang terdekat? Siapa yang harus aku salahkan? That’s so complicated.

Hari itu aku kembali melihat perempuan yang aku sebut dengan ibu, menitihkan airmatanya kembali. Saat itu posisi kami sedang tidak di rumah, kami sedang di sebuah tempat, mama sengaja meminta untuk menemani ku berbelanja beberapa kebutuhan, saat dalam perjalanan beliau mengeluh dan ku dengar suaranya menjadi parau dan bergetar menceritakan beberapa kejadian yang di alami, mungkin rasa rindu dan bingung harus mengadu sedang beliau alami. Ma,, andai aku bisa, aku mau kok menghapus air mata mama. Tapi aku ngga selamanya bisa berada di sisimu, ada tanggung jawab lain yang harus aku lakukan, ini juga demi kehidupanku. Baru setengah bulan aku habiskan di tempat ini untuk bekerja, suasana tidak nyaman sudah tercipta di rumah. Kali ini semakin parah, dan aku sudah kehabisan akal.

Ini bukan cerita dramatis, tetapi ini benar terjadi dan aku alami. Aku seorang anak kedua dari rahimnya, yang harus menanggung masalah yang seharusnya sih belum saatnya buat aku memikirkan semua ini. Buat apa ada si anak pertama, buat apa dia berperan sebagai KAKAK. Tetapi ngga pernah bisa jadi contoh baik buat adiknya. Kalau boleh membenci, aku bakal membenci dia, kalau boleh memilih, aku ngga mau punya kakak kaye dia.

Kenapa sih, apa kurangnya hidup kita? sebagai saudara dia memang lebih dahulu menikmati fasilitas yang diberikan orang tua, terlebih Bapak tidak pernah membedakan kami berdua, dan selalu berlaku adil, walau dia (kakakku) itu bukan darah dagingnya. Ah, sempat terpikir ragu mempublish masalah ini di blog, tapi gimana lagi, aku ngga punya teman berbagi lagi. Aku bingung harus mengadu sama siapa. Semua jauh, dan aku mungkin sudah ngga bisa berkata-kata, karena aku terbiasa untuk memendam semua masalah. Setelah berkonsultasi kepada seorang teman, akhirnya aku berani menceritakan masalahku di sini. Paling tidak aku punya tempat untuk mengadu semua masalah yang sedang aku hadapi di blog ini.

Aku tidak pernah habis pikir, kenapa dia selalu saja menyakiti hati orang tuaku? dimana baktinya sebagai anak? dimana otaknya? dan kenapa selalu dia yang membuatku makin terpuruk. Sejak 2010 lalu, aku merasa bebas karena sudah bisa memutuskan untuk tidak tinggal lagi bersama orang tua, kadang iri, karena melihat anak-anak seusiaku masih dapat bermanja-manja dengan orang tuanya. Bisa menghabiskan waktu mereka, sedangkan aku, karena dia, aku harus berjuang untuk hidupku sendiri. Apapun aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupku sendiri, aku berjuang agar tidak merepotkan orang tuaku lagi, bahkan kalau bisa aku ingin sekali membahagiakan keduanya.

Waktu aku habiskan untuk mencari uang, itupun memang untuk kebutuhan diriku sendiri, karena orang tuaku sendiri tidak pernah menuntut hak, tapi terkadang aku ingin sekali membahagiakan mereka. Suatu saat di tahun 2010 dia membuat masalah, ini sudah beberapa kali dia buat, dan orang tua ku harus menanggung semua dan menyelesaikan masalah yang sudah dia buat. Kasihan pikirku, Bapak sudah tidak muda lagi, di usianya yang saat ini sudah lebih 60 tahun, harusnya bisa menikmati hasil, dan dibahagiakan oleh anak-anaknya, bukan disusahkan. Aku saat itu juga melakukan kesalahan, mungkin beliau saat itu memang sedang kecewa.

Di tahun ini, kejadian yang sama diulang. Aku ngga tau lagi bagaimana cara menegurnya, ibarat kata dia seperti sudah bebal dengan nasihat dari orang tua, sudah tidak mempan diberi masukan, dan masih saja berbuat hal yang bodoh, entah untuk apa, malah dia “menjual” nama kami, dia manfaatkan aku saat aku kecelakaan, padahal saat itu, aku tidak pernah meminta sepeser uang pun dari orang tuaku, kenapa dia gunakan alasan itu untuk “kebutuhan” dirinya. Terlebih lagi, dia mengulang dengan “menjual” nama Mama yang saat itu sedang sakit karena kecelakaan. Iblis mana yang sudah merasuki dirinya.

Dia ngga pantas aku panggil kakak, dia ngga pantas jadi contoh buatku. Aku kesal dan murka. Itu sebab kenapa aku memilih untuk “keluar” dari rumah, dan mencari kehidupanku sendiri. Perlahan-lahan memang langkah yang aku ambil, memulai menyiapkan masa depanku sendiri, kerja sudah tidak memandang siang atau malam hari, subuhpun aku jalani, hari libur mau tidak agar bisa menyiapkan itu semua. Aku tidak mau menyusahkan orang tuaku lagi, keputusanku sudah bulat, mulai tahun 2012 ini aku tidak akan menegurnya lagi sampai dia sadar akan kesalahan-kesalahan yang sudah dia perbuat, apa dia tidak sadar sudah merugikan kedua orang tuanya??? Dimana otaknya? Dimana hatinya? Apa dia tidak pernah melihat diriku yang berjuang mati-matian sendiri. Lebih baik aku pergi jauh dari dia, dan aku tidak mau kehidupanku kelak dicampuri dengan dirinya. Ngga akan mau, andai aku mau memilih, aku akan bilang biar dia ikut Ayahnya saja.

Di saat sedih begini, memang aku kadang menginginkan ada seseorang yang bisa aku jadikan tempat mengadu, mengeluh dan berbagi, tapi banyak memang pertimbangannya, apa dia mau menerima aku? sedangkan aku hanya punya waktu sedikit untuknya, apa dia nanti bisa mengerti keadaanku saat ini, makanya aku sedikit ragu untuk menghadirkan kembali sosok seseorang itu, apa dia mau menerima perempuan yang kerjaannya setiap tahun selalu pindah-pindah ngga jelas, dan hanya punya waktu sedikit untuk memberi perhatian kepadanya? Makanya kadang aku ragu. Apa dia akan betah? Dan sedikit trauma juga masih ada di hatiku. Ketakutan itu masih saja menghantuiku untuk melangkah lagi. Aku takut melakukan kesalahan yang sama.

Tahun ini aku berada di sini, tahun depan tidak tahu dimana lagi kakiku melangkah. Ini demi mengumpulkan modal masa depanku. Karena aku sudah berjanji tidak akan menyusahkan orang tuaku lagi. Cita-cita ku ada ditanganku, kehidupanku selain Tuhan saat ini aku yang menentukan. Aku mengikuti saja skenario indah dari Tuhan. Pasti Tuhan punya rencana terbaik untuk hamba-Nya. Aku ingin terbebas dari keadaan sumpek di rumahku. Semoga aja aku bisa membantu meringankan beban orang tuaku dengan keringatku sendiri. Maaf banget aku harus memilih jalan ini, karena “keluar” dari rumah adalah pilihan terbaikku saat ini, dan aku mau menjalani kehidupanku sendiri. Semoga Tuhan meridhai pilihan hidupku ini. Aku memang sudah tidak bisa menyatu dengan dia (kakakku). Aku membencinya. Maafkan aku Tuhan.

 

cioccolato

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s