Kehidupan si Penyiar Bola Bekel

Howdy, semalam tiba-tiba nemu sebuah kata-kata dari sebuah novel yang berjudul JOKER. Tadinya agak males ngebaca, eh ternyata bukunya tentang penyiar radio.  Langsung dilahap. Hap hap hap…Tapi di sini aku ngga ngebahas isi buku itu secara gamblang sih, cuman ada sebuah kemiripan dari kata-kata yang terkandung dalam buku tersebut. Dan merangsang aku menulis ini. Seperti ini penampakannya.

….ternyata lo emang bener-bener baru, ya? Maksudnya, tiap radio kan pasti punya ciri masing-masing lewat lagu dan gaya siaran penyiarnya. Nah, biasanya kalau orang yang udah lama siaran di radio tertentu, gaya siarannya juga bakal radio itu banget. Jadinya, bakal lama kalau ngerubah gaya siaran di radio baru, karena mind set-nya juga mesti diubah.”

“Ah, masalah kebiasaan aja toh? Tergantung cara adaptasi aja kali nggak?”

“Iya, sih. Tapi tetep aja susah. Pindah radio, tuh, bikin jet lag. Seperti halnya pindah negara, lo mesti nyesuain jam tidur, makanan, dan sebagainya. Nah, kalau pindah radio juga berarti lo mesti nyesuain gaya bicara, intonasi, gaya ketawa, malah ampe batuk pun mesti sama….”

Huwaaaa…. reading that page seems like see my reality. I read a blessed page. Bener banget dalam kenyataannya nge-jleb banget tuh kata-kata. Ibarat kata saat ini aku menjadi penyiar bola bekel. Apaan sih bola bekel?? Jadi gini, tempat aku kerja itu punya beberapa cabang, dan di tiap daerah itu beda-beda dong standar katanya, dan gaya siaran emang masih seragam karena kita masih satu bendera, yang membedakan hanyalah SOP saja. Di setiap daerah yang pernah aku singgahi punya beda-beda karakter, dan dari sini justru malah belajar. Belajar untuk bagaimana cara adaptasi yang cepat. Awalnya 2 bulan lalu, aku bergabung kembali ke Paras Group. Oh thanks God, I feels so proud with this radio. Lalu ditempatkan di Persada FM (Radio Safety) dan mulailah aku mempelajari standar kata lagi, penyesuaiannya cukup sih… lalu setelah 2 bulan dipindah tugaskan lagi ke radio awal mula mengawali karir bekerja di Radio Safety, yaitu Bahana FM.

Berasa reunian booo di sini, tapi benar sekali kata-kata kutipan itu, tetep aja yeee… biar lo siaran jam terbangnya udah kemana-mana yang namanya pindah radio itu ya  mesti dari NOL lagi. Mau lo siaran bertahun-tahun lamanya, namun dari sini justru harusnya sudah lebih peka. Karena sebelumnya pernah di sini juga, jadi tinggal pelenturan lidah aja. Dan itulah tantangan sebagai penyiar radio. Jadi kalau lo sudah siap pindah ke radio lainnya, lo harus ngelupain segala-galanya dari radio sebelumnya, karena kalau lo ngga bergerak cepat, kapan bisa menyesuaikan dirinya. Gitu…. Contohnya aja nih, waktu aku tinggal di Jakarta, sempet ngicip siaran di Radio Online, Djwirya.com dan itu emang berasa beda banget, aku yang asalnya suka ngomong aku-kamu, karena sebelumnya tinggal di daerah, harus membiasakan dengan gue-elo. Walau ngga mesti sih, tapi paling ngga kita harus punya lidah yang flexibel, sapa tau suatu saat tinggal di Jawa gitu kan, ya harus bisa juga bahasa jawa. Contoh doang. Nah kasus yang biasa dihadapi penyiar pada umumnya ya itu dia, penyesuaian diri kalau pindah “rumah”. Sekarang status aku memang hanya ditempatkan sementara aja di sini, tapi aku harus membuang ingatan sejenak dengan standar kata di radio sebelumnya, jadi jangan nanya deh standar kata radio sebelumnya, soalnya udah ditaroh dikotak ingatan sementara, ntar kalau udah balik, baru kotaknya dibuka lagi. Hahahaha….. dari sini aku jadi mikir, kayenya emang perlu deh punya sebuah buku catatan buat nulis semua standar kata, karena aku tipikal penyiar bola bekel. Dan itu bakal berguna.

Pokoknya jadi penyiar radio itu SERU!!! Banyak pengalaman, apalagi pengalaman mengolah mood. Nah, loh!!! Ini tantangan yang seru juga, pernah suatu hari aku nangis gara-gara ada masalah. Dan saat itu lagi siaran dong, sore-sore acara bola. Bayangin deh gimana cara ngebawain acara bola, harus semangat dong, lalu dung dung jesss… air mata tak terbendung lagi, mood kacau seketika, daaaaaaaaan pas lagi lagu, nangis kejer dong aku. Jadi mikir, ni acara  masih lama, dan bentar lagi mesti on voice, gimana caranya ngubah suara yang tadinya sesengukan karena nangis, harus fokus sama acara itu lagi, nah disini fungsi sakelar maen deh, emang sih berasa kaye orang gilak, tapi ngaruh. Mau ngga mau, suka ngga suka, pendengar kita sih ngga peduli lo mau nangis atau mood kacau galau. No excuse deh. Jadi dipencetlah switch on/off mode dalam pikiran, dan harus tetap fokus sama acara, dan kelar ngomong mewek lagi. Hahahaha.. lucu deh. Pengalaman seru jadinya. Jadi penyiar memang harus memberikan good service sama pendengar, biar pendengar juga puas dong sama acara kita. Pesan guru saya “TOTALITAS”. Yak itu baru segelintiran pengalaman selama jadi penyiar, hehehe… gara-gara buku itu, jadi melek nih. Jadi penyiar radio itu NGGA GAMPANG bok!!!!

Salam keterjalan

cioccolato

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s