Catatan si Penyiar: WAKE UP

Beberapa minggu lalu, banyak sekali berita-berita aneh mencuat kepermukaan, sebagai penyiar radio, saya sedikit mengalami kesusahan dalam urusan memfilter berita atau informasi apa saja yang akan saya sampaikan kepada pendengar saya, memang di daerah masih sangat ketat dan bagi saya karena radio di tempat saya bekerja memegang prinsip. Ada beberapa ketentuan-ketentuan untuk memfilter berita, tentu saja, apakah sebuah berita atau informasi itu layak dikonsumsi atau tidak untuk masyarakat.Okay diluar dari konten pekerjaan saya sebagai penyiar, belakangan saya lebih aktif informasi melalui jejaring sosial, dan bisa saya ambil contoh, ini bukan karena semata-mata saya membela, tetapi ini berdasarkan fakta di lapangan yang terjadi. Mungkin saya tidak perlu menyebutkan sumbernya. Pada hari Jumat tepatnya tanggal 9 Maret lalu, ada sebuah gerakan yang bernama #IndonesiaTanpaJIL sedang melakukan long march dan aksi damai. Lalu saya terus pantau mereka melalui twitter orang-orang yang terlibat dalam aksi ini, lalu saya lihat juga pemberitaan di media, hasilnya memang jauh berbeda, contoh kecil saja, di media ini-itu dan lain sebagainya menyebutkan massa mereka hanya berjumlah ratusan, dan kenyataannya ada mencapai angka seribu. Nah dari sini saya berpikir kembali, beberapa waktu lalu sebelumnya, saya mendapatkan masukan dari teman dekat saya mengenai pentingnya pendidikan melek media, dan saya semakin tertarik dengan itu, ada beberapa kutipan yang saya ambil dari informasi-informasi mengenai melek media yang ada di internet yang ditulis pada tahun 2010 lalu. Berikut kutipannya:

Tujuan pembelajaran pendidikan melek media, “Pendidikan ini pada dasarnya bertujuan untuk generasi muda agar mengakses media dengan kritis..” 

Hal tersebut disampaikan oleh Ade Armando, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia saat menghadiri acara Cerdas bermedia untuk literacy. Dari kejadian di atas, menggambarkan bahwa sama persis dengan pemikiran pembicara pada acara lokakarya tersebut. Ia mengatakan,

Beberapa media saat ini terlalu berorientasi pada bisnis yang didasari ketatnya persaingan. Hal ini menyebabkan media tersebut mengedepankan berita yang sensasional, kurang objektif murni, dan mendorong perilaku konsumtif. Selain itu daerah konflik, media tersebut berpotensi memperbesar perpecahan.

(sumber : http://bit.ly/GIDGB1)

Kenapa saya menjadi tertarik dengan hal ini?? Ini semua berawal dari hobi juga, kembali lagi ke permasalahan hobi, hobi saya memang tidak sekali dua kali menjadi sorotan media, dan di sana selalu dikatakan ekstrem. Padahal para pelakunya sendiri mengaku hal yang kami lakukan sama sekali tidak ekstrem, benar. Karena kami melakukan dengan batas kewajaran dan mengedepankan keselamatan diri. Karena sadar akan hal itu, makanya terbawa sampai kepada pekerjaan, dalam kepenyiaran saya juga harus memfilter berita atau informasi apa sajakah yang akan saya sajikan, saya terkadang suka bingung dengan berita yang terlalu menyoroti kekerasan, kasihan pendengar saya, saat milih tips tentang lifestyle dan kesehatan, saya geleng-geleng kepala, karena belakangan kebanyak media pemberitaan malah gencar-gencarnya membicarakan tentang seks, oke, memang wajar untuk jaman sekarang dan bukan hal yang tabu lagi, namun saya mikir, pendengar saya (kebanyakan) laki-laki, takut jadi objek.

Maka dari itu, sebelum saya ingin membahas sesuatu saya selalu menanyakan kepada rekan kerja saya, apakah layak berita atau informasi ini saya sampaikan pada acara ini?? Dan hal ini semakin membuat saya sadar tentang pentingnya melek media, dan fungsi filter berita atau informasi, karena menurut saya, radio ada sebuah media yang sensitif, dan benar, golden rulesnya masih dipatuhi sampai saat ini (selama saya siaran di radio ini), saya bangga menjadi penyiar radio, terlebih di radio yang mengedepankan prinsip. Dan saya rasa belakangan sudah banyak masyarakat yang mulai aware dengan masalah-masalah yang timbul, dilihat dari pertumbuhan gerakan-gerakan yang muncul. Tidak hanya di dalam negeri, namun di luar juga sudah banyak. Contoh lagi dari sebuah penyanyi rap Sabac Red, yang membuat campaign dengan lagunya berjudul “Tell-Lie-Vision”

http://www.youtube.com/watch?v=4QRcmjDSP7s

Mengambarkan tentang media saat ini, yang dekat dengan pemberitaan kekerasan, kriminalitas, berita yang tidak berimbang, dan Sabac Red sendiri saat ini aktif sebagai Program Direktur di yayasan TheCityKids yang tentu saja memperhatikan anak-anak.  Nah, lagi-lagi kesadaran memang harus timbul terlebih dahulu, dan akan menimbulkan pemikiran kritis, dari itu nanti akan muncul kebutuhan untuk menganalisa lebih jauh lagi. Dan jangan malas belajar ya *noted to myself*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s