Cinta???

Menurut definisi, sebuah kata yang dibentuk dari 5 huruf versi bahasa Indonesia ini memiliki sejuta makna dan arti memang, sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Perasaan yang terbentuk dari reaksi kimia tubuh kita, terhadap stimulan-stimulan dari luar, lalu kata ini memberikan banyak kontribusi bagi kehidupan manusia, menjadikan inspirasi juga untuk para seniman mengukir karya-karyanya. Tetap untuk dirasakan memang terlalu rumit, dan penuh misteri. Dalam tulisan ini saya lebih ke arah hubungan cinta antar manusia, ya bukan sekedar balutan curhat yang terselubung, tetapi sebuah rangkaian kata yang memang sudah tak kuat untuk saya ucapkan. Dalam buku La Tahzan yang saya baca, ada disuatu bab, membahas tentang cinta, cinta yang dipertanyakan tepatnya. Dan sini, saya kembali merenung, dan merenung. Memang cinta tak pernah salah, namun pelakunya yang tidak bisa menjaga baik komitmen yang sudah dijalankan. Karena cinta dan komitmen sangat berhubungan kental. Sebelum mengarah jauh kepada bahasan yang ada di La Tahzan, ada 4 gejala yang membentuk perasaan cinta, yang dikenal CRRK (Care, Responsibility, Respect, Knowledge) dan hal tersebut muncul secara alamiah dan (harusnya) seimbang kepada pelaku-pelaku yang mengaku cinta.

Mengapa cinta bisa menjadi haram? Saya rasa ini semua karena rumusan 4 gejala tidak dipenuhi, dan bisa menyebabkan cinta menjadi haram, cinta yang haram menurut agama, adalah cinta yang bisa menyiksa jiwa. Coba kita renungkan jika tidak ada R untuk Responsibility, maka para pelaku cinta akan sesuka hati memanfaatkan kata cinta, semisal berbuat diluar batas kewajaran, dan tidak bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat, mungkin teman-teman tahu apa yang saya maksudkan. Ya, karena terkadang cinta membuat kita terbuai, melayang jauh, seperti merasakan kehidupan di surga,  dia juga akan merasa bahwa cinta adalah perasaan yang datangnya tidak bisa diduga-duga. Nah, perlu kita analisa kembali, apakah hal yang kita rasakan itu benar-benar cinta??

Cinta sejati adalah cinta yang lahir dari perasaaan saling menghormati, saling menghargai, saling mengerti, dan menerima kekurangan yang dimiliki pasangannya. Kemudian dia menerimanya apa adanya atas dasar keyakinan bahwa tidak ada orang yang sempurna. Juga selama kekurangan itu tidak menyangkut hal-hal yang prinsipil, seperti agama, keberhasilan dalam hidup, dan kepribadian yang lurus. Tidak benar bahwa cinta adalah perasaan yang lahir secara tiba-tiba dan tanpa bisa diduga. Hal itu hanya bisa diterapkan pada perasaan kagum atau perasaan tertarik dengan lawan jenis. Kedua perasaan itulah yang biasanya lahir secara spontanitas.

Dengan adanya perasaan yang lahir secara spontan, walaupun terpelihara dalam jangka waktu yang lama, akan timbul perasaan bosan. Karena tidak bisa membentuk chemistry yang dibutuhkan dalam memelihara perasaan cinta, karena tidak ada jaminan juga, dan bisa memastikan itu akan long last. Karena rasa kekaguman itu lama-lama akan memudar seiring dengan bertemunya sesuatu yang lebih indah, atau adanya ketidak seimbangan dari kedua belah pihak.

Sementara dalam cinta kita bisa menentukan kriteria yang kita inginkan dari pendamping hidup kita, serta tidak menutup mata dari kriteria yang tidak kita kehendaki. Kita hendaknya tidak berharap akan mampu mengubah sesuatu yang tidak kita senangi. Karena secara psikologis, tak seorang pun mampu mengubah orang lain selama orang itu tidak memiliki keinginan untuk berubah. Cinta termasuk bagian yang paling vital dalam kehidupan seseorang. Hanya saja, bukan merupakan tindakan yang bijak jika kita hanya memikirkan cinta saja. Karena hidup ini lebih indah dari sekedar mimikirkan soal cinta. Apa yang selama ini ditulis oleh para pujangga hanyalah salah satu usaha untuk memuaskan jiwa dan usaha untuk menikmati.

Okay lanjut, sebuah lagu yang dilantunkan oleh Gita Gutawa dan Derby Romeo,

Perbedaan jadi tidak berarti
Karena hati telah memilih
Di mataku kita berdua satu
Apapun yang mengganggu
Cinta takkan salah

Ku ingin yang ini, ku ingin yang lain
Coba tuk mengerti, coba tuk pahami
Saling melengkapi

Kini ternyata tak pernah ku kira
Di sini kita memulai cerita

Lagu cinta boleh jadi kenangan abadi tetapi buktinya hubungan mereka akhirnya kandas juga. Loh kok jadi gosip? 😛

Ya begitulah cinta, dan selak beluk kerumitannya yang kadang membuat manusia juga jadi galau, kalau kata yang lagi nge-hits belakangan ini. Namun seorang ustadz bernama Felix Siauw pernah mengingatkan di twitternya,

1. Bukan gandengan tangan wanita yang tak halal yang membuat lelaki hakiki | ikatan pernikahan halal yg membuatnya hakiki
2. Bukan kata yang di-imut-imut-kan yang membuat lelaki menjadi pengasih | lisan yang berdalil yang menjaminnya pengasih
3. Bukan menaungi rintik air dengan pakaiannya yang membuat lelaki tangguh | amal yang menjauhkan siksa api neraka yg membuatnya tangguh
4. Bukan baku hantam ataupun baku syahwat bukti lelaki pejantan | namun baku jihad hawa nafsu dan jihad sebenar jihad adalah tanda pejantan
5. Bukan mengetahui restoran dan rumah makan tanda lelaki luas ilmu | tahu tempat yang akan ditujunya di akhirat adalah tanda luas ilmu
6. Bukan banyak harta dan fisik rupawan tanda lelaki idaman | tapi nikmati lapar di siang dan bangun di malam adalah lelaki idaman
7. Bukan beragamnya lawakan dan gurauan artinya lelaki penyayang | linangan air mata dan diamnya seringkali tanda penyayang
8. Lelaki yang menghafal musik trend mode takkan pernah jadi panduan bimbingan hidup | lelaki yang menghafal dan mendaras ayat Allah adalah panduan
9. Bukan bagusnya lisan pertanda lelaki terpelajar | tapi beratnya pemahaman Al-Qur’an adalah pertanda terpelajar
10. Bukan keseriusan bila selalu beralasan untuk tunda pernikahan | lelaki semacam ini tak serius apapun alasannya, udah, putusin aja..

Cinta itu memikirkan yang dicintai, bukan hanya kemarin dan kini, tapi nanti.

Begitulah yang dikatakan oleh Ustadz Felix Siauw. Mama saya juga pernah berkata, berani jatuh cinta berani juga patah hati. Tetapi tentu saja mama ngga ingin melihat anaknya terus-terusan patah hati karena cinta. Karena itu akan sia-sia. Kalau memang sudah tidak ada kata cinta, mengapa harus dipertahankan? Kalau harus membuat diri kita semakin sakit?? Kepura-puraan itu akan bermuara kepada sakit hati, kenapa harus dipertahankan jika memang sudah tidak mampu lagi menjalaninya?? Move on! Daripada sudah tidak bisa 100/100 dan tetap terus memaksa, itu akan menyiksa diri kita sendiri.

cioccolato

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s