Pembicaraan singkat dengan kawan lama tentang pemikiran

Suatu malam gara-gara memposting sesuatu di jejaring sosial yang bernama facebook, ada kawan saya, tepatnya partner in crime waktu jaman smp. Dulu sewaktu kelas 3 semester awal, kami duduk bertiga. Seru memang dan sering dapat teguran dari guru karena terlalu heboh, dan saya perempuan sendiri saat itu. Malam, tepatnya pukul 12 malam kita berbicara melalui chatbox sebagai kawan lama yang sudah lama tak berjumpa, tentu saja dia terkejut melihat perubahanku dan bertanya sejak kapan kamu mulai mendapatkan hidayah?? Karena tampak berbeda terlebih dengan kerudung katanya, *jujur saya sendiri terharu dan menangis karena bahagia jika mengingat motivasi-motivasi beberapa orang yang memberikan masukan kepada saya tentang kerudung, terimakasih, doakan saya yah agar istiqomah* saya hanya menjawab, saya harus sadar dan mau belajar, mengenal lebih jauh tentang agama saya ini. Lalu melihat segelintir issue yang belakangan beredar, saya dan dia sama-sama prihatin, ya kita berdua merasa iba terhadap segelintir orang yang mengkebiri syariat Islam. Harusnya sebagai muslim kita yang menuruti ajaran agama Islam, bukan Islam yang menyesuaikan keinginan kita, toh semua sudah diatur jelas dan terperinci dalam kitab suci Al Quran.

Kilas balik, ternyata obrolan saya dan kawan SMP saya ini masih ada sangkut pautnya dengan Bumi Cinta, masih berlanjut tentang pembahasan novel tersebut. Dalam chatnya kawan saya berkata,

D : sebenarnya…orang liberal dan atheis… untuk awal2 aja mereka bisa ngomong seenaknya dewe,  nanti jangka panjang,, 90% dari mereka berakhir bunuh diri itu fakta yg ditutup2in oleh barat dan kroni2nya, you know lah…

D : dan akhirnya nurani mereka kering,, dihadapkan sama dunia yg uedan gini, jadilah mereka…ya you know lah

D : ya memang begitu dari dulu, dari jaman nabi, bahkan sebelumnya..

D : orang2 yg paling hebat dalam dunia kerja+sosial+sains+dll justru orang2 muslim kalo di barat/eropa, itu terjadi karena pemikiran mereka, karena hidayah juga sih. Nah masalahnya di indonesia ini banyak orang muslim karena bawaan ortu, bukan karena kesadaran sendiri. Padahal agama islam = agama orang berilmu+berakal.

D* = Dia. Nah obrolan kami terputus karena dia, kawan saya harus ada yang dikerjakan. Lalu kelanjutannya ada di novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy, seorang pemuda Indonesia bernama Ayyas menjadi pembicara di sebuah seminar agama, dan saat itu memang ada seorang tokoh idola, atheis, bernama Viktor Murasov yang membuat statement “Manusia modern tidak lagi memerlukan Tuhan,” dan sanggahan Ayyas sebagai bumbu pelengkap pada diskusi menarik itu antaranya.

A : Di dunia ini, Tuhan menyayangi orang-orang yang mengimaninya juga menyayangi orang-orang yang mengingkarinya. Sangat dashyat kasih sayang Tuhan, sehingga seorang manusia yang lemah yang kalau sakit gigi sedikit saja mengaduh siang malam, yang sedemikian lemahnya manusia itu tapi berani menyatakan bahwa Tuhan itu telah sirna karena ilmu pengetahuan.

A : Meskipun begitu Tuhan tetap masih sayang padanya. Tuhan tidak memerintahkan kepada jantung yang ada di dalamnya untuk berhenti berdetak. Tidak. Tuhan tidak memerintahkan hati yang ada di dalamnya berhenti menyaring racun. Tidak. Tuhan masih memberinya kesempatan hidup. 

A : Tuhan tidak juga mengirimkan topan dan badai kemarahan kepadanya. Tidak. Kenapa? Sebab Tuhan tahu kata-kata Viktor Murasov itu tak lebih beharga dari sampah belaka. Tidak ada bobot dan nilai samasekali. Kata-katanya samasekali tidak menggoyahkan sedikit pun keberadaan Tuhan.

See!! Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban. Maka nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan? dalam surah Ar-Rahman, kalimat tersebut disebut berulang 31 kali. Betapa Allah Maha Pemurah, masih memberikan mereka yang ingkar kesempatan, mengapa malah menantang Allah memberikan azabnya?? *mengingat kejadian yang belakangan gempar* Innalillahi wa innaillahi rojiun. Saya memang masih mempelajari Islam, tetapi saya tidak mau terjebak dengan kefanaan yang ada didunia, penuh konspirasi, penuh intrik, yang semua sebenarnya terselubung, saya hanya bisa mendoakan semoga Allah SWT memberikan rahmatnya agar bisa membukakan mata mereka dari kebebasan yang kebablasan ini. Selanjutnya mengenai pemikiran-pemikiran hasil ciptaan manusia, ada salah satunya dalam novel itu, Ayyas berbicara,

A : Bagi orang yang cermat dan paham filsafat. Sebenarnya Viktor Murasov hanyalah burung beo. Dia hanya ikut-ikutan saja. Apa yang dikatakan sebenarnya adalah apa yang pernah dikatakan oleh Nietzsche. Siapa Nietzsche itu? Dia adalah pemikir dari Jerman yang mengatakan Tuhan telah mati. Nietzsche adalah seorang atheis. Dia mengingkari adanya Tuhan. Dia pengusung paham atheisme optimisme. Jadi, apa yang dikatakan oleh Viktor Murasov adalah apa yang ditulis Nietzsche yang pernah menggegerkan Jerman, bahkan Eropa pada abad ke-19 yang silam. Pembual itu hanya menyambung lidah Nietzsche. Dia tak ubahnya seekor burung beo yang mengoceh dan menirukan pemikiran Nietzsche.

Begitu Ayyas menuturkan pendapatnya, ya yang kita bisa petik dari sini ialah, sebagai Muslim, kita harus berhati-hati, saat berpikir, kembali lagi agama Islam = agama orang yang berilmu dan berakal. Mari gunakan akal sehat kita, dan mempelajari kembali Islam, jika Islam berkata tidak pada hubungan sesama jenis, maka jangan lakukan, karena sudah tau apa akibatnya. Semua sudah tercantum jelas dalam Al Quran, azab itu bukan bencana alam, azab datangnya dari Allah, azab merupakan peringatan Allah. Hanya Allah yang berkuasa untuk mengirimkan azab maupun menghilangkannya. Azab Allah merupakan bentuk pertolongan Allah bagi orang-orang yang beriman dan bagi orang-orang yang berdosa azab bertujuan agar manusia kembali ke jalan yang benar. Yang saya lakukan hanya mengingatkan saja, dan saya peduli, toh ini bentuk dari kebebasan berbicara, kan?? Dan diceritakan dalam novel itu Nietzsche itu meninggal dalam keadaan gila. Nah sebelum ikutan gila, mari kita mengenal Islam kembali, back to basic.

Saya pun masih belajar, karena saya peduli dengan akidah saya, akidah orang tua saya dan masa depan saya kelak. Allahumma ya Allah, lindungi lah kami, berikan lah kami selalu petunjuk-Mu, untuk selalu berpegang teguh kepada-Mu, menjauhi segala jenis larangan-Mu, isi jiwa dan akal kami dengan ilmu yang bermanfaat dan berguna, beri ampunan kepada orang-orang yang tersesat dan semoga mereka mendapat rahmat dari-Mu Ya Rabb, berikan istiqomah kepada kami semua yang sedang belajar menjadi muslim yang taat.

Aamin.

Asyhadu alla ilaaha illallah Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. 

Advertisements

2 thoughts on “Pembicaraan singkat dengan kawan lama tentang pemikiran

  1. Bantahan untuk atheis

    Mengapa manusia bisa menjadi seorang yang berpandangan atheistik (?) karena pada dasarnya ia beranggapan bahwa ‘yang nyata’ atau realitas adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera,dan prinsip ini tidak berubah walau ia telah menjadi filosof atau saintis.ketika ia menjadi seorang filosof maka jalan pemikirannya menjadi terbatas sebatas prinsip cara pandangnya terhadap realitas itu,sehingga sejauh manapun ia berfikir ia tidak bisa menemukan Tuhan apalagi menemukan kebenaran agama.begitu pula ketika ia menjadi saintis maka sebagaimana kita ketahui ia mendeskripsikan konsep ‘saintisme’ yang bersandar pada prinsip bahwa ‘ilmu’ adalah segala suatu sebatas pengalaman dunia indera atau segala suatu yang bisa dibuktikan oleh dunia pengalaman indera atau segala suatu yang bisa dibuktikan secara empirik.artinya ia mengunci definisi pengertian ‘ilmu’ di wilayah dunia alam lahiriah-material sehingga dunia abstrak dianggap bukan wilayah ilmu atau memisahkan ilmu dari realitas yang bersifat abstrak sehingga ilmu tidak bisa menjelajah dunia abstrak.dan cara berfikir akal nya pun menjadi terikat kepada dunia panca inderanya.sehingga baginya definisi pengertian ‘rasional’ menjadi tidak bisa jauh dari ‘segala suatu yang dunia indera masih bisa menangkap dan atau memahaminya’.
    Artinya atheisme secara ilmiah berawal dari cara pandang manusia yang salah terhadap realitas,ia melihat realitas secara sebelah atau hanya sepotong,tidak utuh dan menyeluruh,hanya sisi atau dimensi realitas yang tertangkap oleh dunia inderawi,dan ‘buta’ terhadap sisi realitas yang lain yaitu yang bersifat abstrak,(bermata satu atau ‘dajjal’ menurut bahasa kitab suci),cara pandang demikian otomatis sulit memahami agama..
    Padahal konsep tentang realitas yang sebenarnya (yang utuh dan menyeluruh) adalah : ‘sesuatu yang memiliki dua dimensi yaitu dimensi yang abstrak dan yang konkrit’, sebagaimana Sebagai contoh : manusia itu terdiri dari jiwa dan raga atau komputer terdiri dari soft ware dan hard ware (seluruh realitas selalu terdiri dari dua dimensi).dan inilah konsep tentang realitas versi agama sehingga dalam agama manusia dikonsep untuk harus percaya terhadap adanya dua dimensi relitas itu,dan cara berfikirpun harus bersandar kepada pemahaman terhadap realitas yang utuh yang memiliki dua dimensi itu.
    Dengan kata lain bila atheis itu cara pandangnya ‘bermata satu’ maka agama mengajarkan agar manusia ‘bermata dua’ sehingga bisa melihat ke dua arah-ke dua dimensi realitas secara berimbang,(sehingga dua dimensi realitas itu difahami sebagai kesatu paduan sistemik).sehingga dalam agama definisi pengertian ‘ilmu’ bersandar pada realitas yang utuh tersebut sehingga pengertian ‘ilmu’ tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera karena dalam pandangan Tuhan ilmu adalah sesuatu yang harus mendeskripsikan keseluruhan realitas sehingga yang abstrak dan yang konkrit bisa difahami sebagai kesatu paduan yang utuh,sistematis.dan definisi ‘rasional’ versi agama adalah ‘yang logika akal fikiran manusia bisa menangkapnya’ atau cara berfikir yang murni sistematis berdasar logika yang tidak bersandar pada tangkapan mata secara langsung.
    Sebab itu bila ingin meruntuhkan atheisme dari dasar coba runtuhkan dengan konsep tentang realitas yang bersifat menyeluruh tersebut yang argumentasi demikian memang sederhana tapi sangat mendasar (sebelum kita berdebat ke masalah teknis yang rumit dan pelik).
    Sebab itu pantas (dan jangan heran atau gentar) bila atheist memandang serta mendeskripsikan agama sebagai ‘irrasional’,’tidak berasas ilmu’,’hanya dogma’karena mereka melihat segala suatu dengan ‘mata satu’ atau dengan cara pandang terhadap realitas yang tidak utuh.dan jangan gentar bila filsafat – sains lebih banyak didominasi oleh orang orang bersudut pandang materialistis (cara pandang ‘bermata satu’) sebab kebenaran sejati memang mahal dan seringkali hanya diketahui dan difahami oleh sedikit orang.yang mesti diwaspadai adalah kini saintis atheistik itu selalu menafsirkan berbagai temuan ilmiah ke arah (pembenaran’) ideologinya dan selalu ingin melanggengkan teori ilmiah yang bersesuaian dengan ideologinya tsb. walau teori itu irrasional dan ber asas kepada fakta yang ditafsirkan (bukan fakta langsung) semacam teori Darwin.
    Padahal dalam konsep Tuhan ‘ilmu’ itu memiliki dua kaki dan dua mata,yang satu berpijak di dunia abstrak yang satu berpijak didunia konkrit,yang satu melihat ke dunia abstrak dan yang satu melihat ke dunia konkrit.sehingga apapun temuan ilmiah yang tertangkap mata secara langsung ia senantiasa berkaitan dengan realitas abstrak atau dengan tafsir yang bersifat abstrak.
    Artinya dalam kacamata agama ilmu (termasuk didalamnya ‘sains’/ilmu dunia material)tak bisa mengarah atau diarahkan ke kacamata pandang ‘materialisme ilmiah’ yang kini gencar di promosikan oleh orang bersudut pandang materialistik.

  2. Berbagai kekeliruan kacamata sudut pandang atheistic

    1.atheis keliru dalam mengkonsep ‘realitas’.

    Atheis berpandangan bahwa ‘realitas’ adalah segala suatu yang dunia panca indera bisa menangkapnya’,bila kita kaji secara ilmiah ini adalah konsep yang salah sebab definisi ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang ada – nyata atau terjadi’ dimana realitas itu ada yang bisa tertangkap dunia indera dan ada yang tidak bisa tertangkap dunia indera,jadi realitas terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang gaib.
    Karena atheis beranggapan bahwa yang real adalah segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun selalu mereka kaitkan dengan segala suatu yang tertangkap dunia indera sehingga bagi atheis yang rasional = yang dunia indera bisa menangkapnya.ini berlawanan dengan konsep Tuhan,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun harus dikaitkan dengan kedua dimensi realitas itu,sebab akal bukan hanya alat berfikir yang diciptakan untuk menela’ah serta menjelajah dunia konkrit semata tapi juga untuk menela’ah serta menjelajah dunia abstrak.sehingga dalam konsep Tuhan ‘yang rasional’= yang akal bisa memahaminya bukan yang mata bisa menangkapnya.
    Sebab itu karena definisi ‘realitas’ versi agama berbeda dengan definisi ‘realitas’ versi atheis maka definisi pengertian ‘rasional’ versi agama pun berbeda jauh dengan ‘rasional’ versi atheis.

    2.atheis keliru dalam membuat definisi pengertian ‘rasional’ sehingga definisi pengertiannya menjadi sesuatu yang seolah harus selalu terkait secara langsung dengan bukti mata telanjang, ’rasionalisme’ kaum atheis selalu dikaitkan dengan tangkapan mata langsung sehingga bagi atheis yang rasional selalu harus yang didahului oleh bukti mata telanjang sehingga deskripsi tentang yang abstrak sering divonis ‘irrasional’ hanya karena berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa tertangkap dunia indera.padahal definisi pengertian ‘rasional’ yang sebenarnya adalah ‘yang akal fikiran bisa memahaminya secara tertata’,dan definisi pengertian ‘rasional’ itu sama sekali tidak bergantung mutlak pada tangkapan dunia indera.sebab akal tidak bergantung secara mutlak pada dunia indera.
    Agama sering distigmakan sebagai ‘irrasional’ hanya karena mendeskripsikan hal yang gaib bagi mata manusia.padahal akal itu adalah alat berfikir untuk memahami rasionalitas dari segala suatu (keseluruhan) termasuk yang abstrak. sebagai contoh : konsep sorga – neraka tak bisa disebut irrasional hanya karena tak bisa tertangkap ditangkap mata,karena konsep sorga-neraka berhubungan secara sistematis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia jadi adanya sorga neraka bisa difahami secara sistematis oleh cara berfikir logika akal.dan bayangkan bila didunia ada kebaikan dan kejahatan tapi tak ada konsep balasan diakhirat maka kehidupan akan menjadi ganjil dalam arti menjadi tidak sistematis.
    Dengan kata lain rasionalitas atheis hanya bisa berjalan didunia alam lahiriah -material tapi ketika berhadapan dengan dunia abstrak cara berfikir logika akal mereka menjadi macet-buntu itu karena ketergantungan secara mutlak pada tangkapan dunia indera,sehingga cara berfikir logika akalnya menjadi sempit.
    Filsuf-pemikir-saintis-ilmuwan yang atheistik sering menyebut serta membanggakan diri sebagai golongan yang berpandangan ‘rasional’ tetapi anggapan mereka itu sebenarnya harus diklarifikasi – harus dianalisis secara ilmiah sehingga kita bisa mengetahui secara lebih jelas betulkah mereka adalah golongan yang berpandangan rasional (?)
    Akal adalah alat berfikir agar manusia bisa berfikir secara sistematis-tertata (konstruktif) sehingga sesuatu bisa disebut sebagai ‘rasional’ apabila bisa dijelaskan oleh cara berfikir yang tertata secara sistematis,sebagai contoh : bila ada pertanyaan : mengapa sebuah gedung besar bisa berdiri tegak (?) maka bila kita memberi penjelasan bahwa didalam gedung itu ditanam konstruksi besi beton yang kokoh yang menopang gedung itu, maka itu adalah penjelasan yang rasional (penjelasan yang tertata-sistematis) walau kita tidak memperlihatkan konstruksi besi beton itu melalui tangkapan mata secara langsung.tapi bila kita katakan bahwa gedung itu bisa tegak karena faktor ‘kebetulan’ maka itu adalah penjelasan yang tidak tertata artinya penjelasan yang tidak rasional atau penjelasan yang bersandar pada pemikiran spekulatif,dan pemikiran spekulatif adalah bentuk pemikiran yang tidak tertata beda dengan pikiran yang rasional yang mengikuti jalan pikiran yang tertata.
    Atheisme bisa disebut sebagai irrasional karena sama dengan beranggapan bahwa segala bentuk keteraturan dan ketertataan alam semesta itu berasal dari ‘kebetulan’ .bandingkan dengan argument agama yang menyatakan bahwa yang serba teratur itu hanya bisa berasal dari adanya desainer.jadi atheis tidak bersandar pada prinsip bahwa pengertian ‘rasional’ adalah bentuk cara berfikir yang tertata-sistematis tapi bersandar pada anggapan bahwa sesuatu disebut ‘ rasional’ bila disertai oleh fakta yang tertangkap mata secara langsung.jadi beda jauh antara definisi pengertian ‘rasional’ versi agama yang murni cara berfikir akal yang sistematis dengan definisi pengertian ‘rasional’ versi atheis yang tidak murni cara berfikir akal yang sistematis sebab ketergantungan yang bersifat mutlak pada dunia panca indera.
    Atheis sering berargementasi mengatasnamakan ‘logika’ tapi mereka sering menolak argumentasi logis yang terang benderang bagi akal,sebagai contoh : bila argumentasi sistematis dari Wiliam paley tentang jam atau dari Thomas Aquinas tentang keharusan adanya Tuhan bagi akal masih saja tidak memuaskan dan ditolak lalu argumentasi rasional yang bagaimana lagi yang sebenarnya mereka (atheist) inginkan (?), jawabnya adalah : yang memuaskan bagi atheist selalu pada hal hal yang tertangkap mata telanjang.
    Dan terlalu banyak yang tidak rasional dalam pemikiran atheistik,misal : bila keserba teraturan ini berasal dari ‘kebetulan’ maka terlalu banyak kebetulan yang terjadi d ialam semesta ini yang rasio manusia pasti tak bisa menerima konsep seperti itu.rasio pasti akan lebih menerima bila argumentasi untuk keserba teraturan itu berasal dari desainer yang desainer ini karena maha tak terbatas tak bisa ditangkap oleh keserba terbatasan manusia sehingga Ia memperlihatkan eksistensinya didunia melalui utusanNya.(apa yang tidak rasional dari penjelasan demikian ketimbang menyandarkan segala suatu pada faktor ‘kebetulan’),dengan kata lain sebenarnya tak ada hubungan rasional sama sekali antara prinsip ‘kebetulan’ dengan rasionalisme,jadi bagaimana orang atheis bisa menyebut diri sebagai orang yang rasional (?)

    Jadi sebenarnya bukan agama yang ‘irrasional’ tapi atheis tak bisa membaca rasionalitas konsep Tuhan itu karena atheis selalu mengaitkan rasionalitas selalu dengan tangkapan dunia indera langsung,padahal dalam konsep agama rasionalitas berarti murni cara berfikir sistematis-tertata tanpa ketergantungan mutlak kepada bukti panca indera yang langsung.dengan kata lain dalam atheisme akal atau rasionalitas itu persis seperti kambing yang dikekang oleh tali yang tak boleh berjalan jauh tanpa disertai secara mutlak oleh perangkat dunia inderawi (inilah sebab mengapa rasio orang atheis sulit membaca konsep realitas abstrak).dan itulah kelemahan rasio orang atheis sedang kekuatan rasio orang beragama adalah akalnya bisa menangkap konsep konsep dari manapun datangnya apakah itu dari realitas yang nampak mata maupun realitas yang tak nampak mata,sebab ia memiliki ‘dua mata’ yang bisa melihat ke dua dimensi realitas yang berbeda,beda dengan atheis yang hanya memiliki ‘satu mata’.

    Berbagai kekeliruan kacamata sudut pandang atheistic

    1.atheis keliru dalam mengkonsep ‘realitas’.

    Atheis berpandangan bahwa ‘realitas’ adalah segala suatu yang dunia panca indera bisa menangkapnya’,bila kita kaji secara ilmiah ini adalah konsep yang salah sebab definisi ‘realitas’ adalah : ‘segala suatu yang ada – nyata atau terjadi’ dimana realitas itu ada yang bisa tertangkap dunia indera dan ada yang tidak bisa tertangkap dunia indera,jadi realitas terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang gaib.
    Karena atheis beranggapan bahwa yang real adalah segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun selalu mereka kaitkan dengan segala suatu yang tertangkap dunia indera sehingga bagi atheis yang rasional = yang dunia indera bisa menangkapnya.ini berlawanan dengan konsep Tuhan,karena realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak dan yang konkrit maka definisi ‘akal’ serta istilah ‘rasional’ pun harus dikaitkan dengan kedua dimensi realitas itu,sebab akal bukan hanya alat berfikir yang diciptakan untuk menela’ah serta menjelajah dunia konkrit semata tapi juga untuk menela’ah serta menjelajah dunia abstrak.sehingga dalam konsep Tuhan ‘yang rasional’= yang akal bisa memahaminya bukan yang mata bisa menangkapnya.
    Sebab itu karena definisi ‘realitas’ versi agama berbeda dengan definisi ‘realitas’ versi atheis maka definisi pengertian ‘rasional’ versi agama pun berbeda jauh dengan ‘rasional’ versi atheis.

    2.atheis keliru dalam membuat definisi pengertian ‘rasional’ sehingga definisi pengertiannya menjadi sesuatu yang seolah harus selalu terkait secara langsung dengan bukti mata telanjang, ’rasionalisme’ kaum atheis selalu dikaitkan dengan tangkapan mata langsung sehingga bagi atheis yang rasional selalu harus yang didahului oleh bukti mata telanjang sehingga deskripsi tentang yang abstrak sering divonis ‘irrasional’ hanya karena berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa tertangkap dunia indera.padahal definisi pengertian ‘rasional’ yang sebenarnya adalah ‘yang akal fikiran bisa memahaminya secara tertata’,dan definisi pengertian ‘rasional’ itu sama sekali tidak bergantung mutlak pada tangkapan dunia indera.sebab akal tidak bergantung secara mutlak pada dunia indera.
    Agama sering distigmakan sebagai ‘irrasional’ hanya karena mendeskripsikan hal yang gaib bagi mata manusia.padahal akal itu adalah alat berfikir untuk memahami rasionalitas dari segala suatu (keseluruhan) termasuk yang abstrak. sebagai contoh : konsep sorga – neraka tak bisa disebut irrasional hanya karena tak bisa tertangkap ditangkap mata,karena konsep sorga-neraka berhubungan secara sistematis dengan keberadaan kebaikan dan kejahatan didunia jadi adanya sorga neraka bisa difahami secara sistematis oleh cara berfikir logika akal.dan bayangkan bila didunia ada kebaikan dan kejahatan tapi tak ada konsep balasan diakhirat maka kehidupan akan menjadi ganjil dalam arti menjadi tidak sistematis.
    Dengan kata lain rasionalitas atheis hanya bisa berjalan didunia alam lahiriah -material tapi ketika berhadapan dengan dunia abstrak cara berfikir logika akal mereka menjadi macet-buntu itu karena ketergantungan secara mutlak pada tangkapan dunia indera,sehingga cara berfikir logika akalnya menjadi sempit.
    Filsuf-pemikir-saintis-ilmuwan yang atheistik sering menyebut serta membanggakan diri sebagai golongan yang berpandangan ‘rasional’ tetapi anggapan mereka itu sebenarnya harus diklarifikasi – harus dianalisis secara ilmiah sehingga kita bisa mengetahui secara lebih jelas betulkah mereka adalah golongan yang berpandangan rasional (?)
    Akal adalah alat berfikir agar manusia bisa berfikir secara sistematis-tertata (konstruktif) sehingga sesuatu bisa disebut sebagai ‘rasional’ apabila bisa dijelaskan oleh cara berfikir yang tertata secara sistematis,sebagai contoh : bila ada pertanyaan : mengapa sebuah gedung besar bisa berdiri tegak (?) maka bila kita memberi penjelasan bahwa didalam gedung itu ditanam konstruksi besi beton yang kokoh yang menopang gedung itu, maka itu adalah penjelasan yang rasional (penjelasan yang tertata-sistematis) walau kita tidak memperlihatkan konstruksi besi beton itu melalui tangkapan mata secara langsung.tapi bila kita katakan bahwa gedung itu bisa tegak karena faktor ‘kebetulan’ maka itu adalah penjelasan yang tidak tertata artinya penjelasan yang tidak rasional atau penjelasan yang bersandar pada pemikiran spekulatif,dan pemikiran spekulatif adalah bentuk pemikiran yang tidak tertata beda dengan pikiran yang rasional yang mengikuti jalan pikiran yang tertata.
    Atheisme bisa disebut sebagai irrasional karena sama dengan beranggapan bahwa segala bentuk keteraturan dan ketertataan alam semesta itu berasal dari ‘kebetulan’ .bandingkan dengan argument agama yang menyatakan bahwa yang serba teratur itu hanya bisa berasal dari adanya desainer.jadi atheis tidak bersandar pada prinsip bahwa pengertian ‘rasional’ adalah bentuk cara berfikir yang tertata-sistematis tapi bersandar pada anggapan bahwa sesuatu disebut ‘ rasional’ bila disertai oleh fakta yang tertangkap mata secara langsung.jadi beda jauh antara definisi pengertian ‘rasional’ versi agama yang murni cara berfikir akal yang sistematis dengan definisi pengertian ‘rasional’ versi atheis yang tidak murni cara berfikir akal yang sistematis sebab ketergantungan yang bersifat mutlak pada dunia panca indera.
    Atheis sering berargementasi mengatasnamakan ‘logika’ tapi mereka sering menolak argumentasi logis yang terang benderang bagi akal,sebagai contoh : bila argumentasi sistematis dari Wiliam paley tentang jam atau dari Thomas Aquinas tentang keharusan adanya Tuhan bagi akal masih saja tidak memuaskan dan ditolak lalu argumentasi rasional yang bagaimana lagi yang sebenarnya mereka (atheist) inginkan (?), jawabnya adalah : yang memuaskan bagi atheist selalu pada hal hal yang tertangkap mata telanjang.
    Dan terlalu banyak yang tidak rasional dalam pemikiran atheistik,misal : bila keserba teraturan ini berasal dari ‘kebetulan’ maka terlalu banyak kebetulan yang terjadi d ialam semesta ini yang rasio manusia pasti tak bisa menerima konsep seperti itu.rasio pasti akan lebih menerima bila argumentasi untuk keserba teraturan itu berasal dari desainer yang desainer ini karena maha tak terbatas tak bisa ditangkap oleh keserba terbatasan manusia sehingga Ia memperlihatkan eksistensinya didunia melalui utusanNya.(apa yang tidak rasional dari penjelasan demikian ketimbang menyandarkan segala suatu pada faktor ‘kebetulan’),dengan kata lain sebenarnya tak ada hubungan rasional sama sekali antara prinsip ‘kebetulan’ dengan rasionalisme,jadi bagaimana orang atheis bisa menyebut diri sebagai orang yang rasional (?)

    Jadi sebenarnya bukan agama yang ‘irrasional’ tapi atheis tak bisa membaca rasionalitas konsep Tuhan itu karena atheis selalu mengaitkan rasionalitas selalu dengan tangkapan dunia indera langsung,padahal dalam konsep agama rasionalitas berarti murni cara berfikir sistematis-tertata tanpa ketergantungan mutlak kepada bukti panca indera yang langsung.dengan kata lain dalam atheisme akal atau rasionalitas itu persis seperti kambing yang dikekang oleh tali yang tak boleh berjalan jauh tanpa disertai secara mutlak oleh perangkat dunia inderawi (inilah sebab mengapa rasio orang atheis sulit membaca konsep realitas abstrak).dan itulah kelemahan rasio orang atheis sedang kekuatan rasio orang beragama adalah akalnya bisa menangkap konsep konsep dari manapun datangnya apakah itu dari realitas yang nampak mata maupun realitas yang tak nampak mata,sebab ia memiliki ‘dua mata’ yang bisa melihat ke dua dimensi realitas yang berbeda,beda dengan atheis yang hanya memiliki ‘satu mata’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s