Yuk kita membaca

Membaca itu ibarat sebuah kewajiban, dari usia dini kita diajari mengenal huruf-huruf yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kata dan kalimat, selanjutnya bertambah umur kita dikenalkan ke sebuah paragraf, hingga sebuah buku. Aku masih ingat saat itu, saat berumur 4 tahun, aku sudah mulai bisa membaca, dan sewaktu TK sebenarnya aku tidak mengalami kesulitan sama sekali. Tapi apa pentingnya kita harus membaca? Kira-kira apakah membaca sudah kita jadikan sebuah rutinitas?

Kemarin pas sewaktu siaran, aku membaca sebuah artikel yang menyinggung minat baca orang di Indonesia, sebenarnya issue ini bukan current issue, melainkan dari jaman dahulu. Ya membaca bisa menambahkan wawasan kita, dan kita bisa mempelajari apa saja dari membaca, bahkan di Al Quran pun ada perintah untuk membaca. IQRA! Bacalah! Merupakan ayat pertama saat Allah memberikan wahyu kepada Rasulullah SAW. Manusia diciptakan untuk membaca. Tidak hanya membaca teks tetapi lingkungan juga.

Mengomentari masalah minat baca masyarakat Indonesia, menurut data yang dihimpun oleh UNCEF dikatakan, masih tergolong rendah, jika hal tersebut dipersentasekan ada pada 0,01 persen saja. Begitu yang dikutip dari artikel. Dari membaca kita bisa mengetahui banyak hal, dari kecil di sekolahku juga menanamkan minat baca kepada muridnya dengan mengajak mengunjungi perpustakaan. Itu contoh kecilnya saja. Tapi memang sih, sesuai dengan nilai persentase, kita masih ketinggalan jauh dari negara lain.

Dalam sebuah seminar tentang informasi yang diselenggarakan oleh British Council di Jakarta tahun 2009 silam, saat itu seorang penyair bernama Taufik Ismail melakukan observasi kepada beberapa para mantan pelajar sekolah menengah atas (SMA) di 13 negara di Eropa, Amerika, dan Asia, mereka diharuskan membaca dengan cermat 5 sampai 32 judul buku sastra. Ini menunjukan membaca lebih dari sekedar kewajiban bagi mereka. Lalu tidak hanya membaca karya sastra tersebut, mereka juga menuangkan dalam pikiran yang diimplementasikan dalam subjek tulisan atau membahas bacaan di depan kelas bersama guru dan teman sekelas mereka.

Di Rusia,  para pelajar wajib membaca dan membahas 12 judul buku sastra, dan salah satunya adalah karya sastra Leo Tolstoy, Perang dan Damai (War and Peace) yang memiliki ketebalan buku 1.000 halaman. Kita tahu warga Rusia begitu menghargai sejarah negaranya dan juga karya sastranya. Kewajiban membaca serta membahas karya dari Tolstoy sudah berlangsung setengah abad. Whooa cool!!! Dan another fact, buku sastra adalah buku wajib yang harus tersedia di perpustakaan sekolah-sekolah yang ada di Rusia.

Harapannya juga hal tersebut bisa diaplikasikan ke sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, dan lebih bisa menerapkan pelajaran membaca yang intensif, tidak sekedar membaca, melainkan menuliskan dan membahas banyak buku sastra. Bukan hanya memojokkan negara kita, aku rasa kalau kita tidak memulai perubahan dari diri sendiri, banyak masyarakat “nyinyir” bisanya hanya berkomentar ria tanpa melakukan perubahan. Nah loh!

Bersyukur juga rasanya, karena semakin ke sini Indonesia mengalami banyak perubahan yang mengarah ke hal yang positif. Banyak gerakan-gerakan yang mengajak masyarakat agar sadar membaca. Contohnya saja, Taman Bacaan Masyarakat, jumlahnya saat ini mencapai 5.000 yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada tahun ini mereka mengampanyekan sebuah Gerakan Literasi Lokal Untuk Indonesia Membaca. Kabarnya sih di Samarinda sendiri juga ada, oh my God! Berarti aku agaknya sedikit apatis dengan perkembangan kota sendiri. Hehehe… Aku percaya untuk mengejar ketinggalan itu tidak ada kata terlambat kok. Pada tahun 2002 terdapat sebuah data yang menghimpun jumlah perpustakaan yang dimiliki oleh Indonesia dari rentang pendidikan sekolah dasar hingga sekolah lanjutan adalah lima persen dari 300.000 sekolah. Mungkin setelah 10 tahun, alias sekarang jumlah itu meningkat. Apalagi dengan adanya gerakan-gerakan seperti itu. Kembali aku bersyukur sewaktu bersekolah di sekolah-sekolah dimana aku memperoleh pendidikan, memeliki koleksi buku yang komplit dan layak untuk disebut perpustakaan. Perkembangan teknologi juga menjadi tantangan kita untuk sadar membaca, tetapi benar, perpustakaan juga tempat yang nyaman untuk belajar, ya bagaimanapun kita juga harus tetap melestarikan perpustakaan juga.

Aku sendiri sekarang mulai mencoba mendisiplinkan diri untuk tetap membaca, dan terinspirasi dari orang-orang yang ada di sekitarku, sebulan aku mulai membiasakan diri membeli buku minimal satu, dan untuk keponakanku juga, karena aku juga ingin menularkan hal ini kepada keluargaku juga. Semua orang berhak membaca dan semua orang berhak menjadi pintar dan berwawasan luas. Dan aku juga akan mulai membiasakan diriku setelah membaca aku akan mengulas bacaanku (jika ada waktu) hehehehe… ngga ada kata terlambat memulai sesuatu yang baik. Apalagi membaca bagiku sama seperti bernafas. Ada seseorang yang pernah berkata padaku, tapi aku lupa siapa, dia bilang, “Bacalah apa yang bisa dibaca, walaupun hanya selembar brosur, itu juga akan menambah wawasanmu.” Semoga bermanfaat.

 

Keep reading!!

cioccolato

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s