Bicara Horror

Haduh, dari kemarin katanya mau nge-blog, eh malah masak, tadi pagi niatnya nge-blog, eh malah ngerjain hal yang jelas. Yang namanya ngumpulin mood itu beda sama kaye ngecharge laptop atau handphone. Kalau nurutin mood sih ngga bakalan kelar, dan ngga bakalan penuh. Jadi ya cara buat nge-charge mood, dengan melawannya. Haduh, haduh, saya memang orangnya mudah sekali tergoda. Hahaha.. kemaren sih rencananya pengen nulis tentang hubungan antara 500 days of Summer dengan percintaan. Ih, tapi kok lagi-lagi cinta. Bosan lah saya juga. Jadi saya pengen nulis sesuai yang sedikit keluar dari kebiasaan. Tapi ini hiburan juga kok, karena aslinya saya penikmat film horror. Moga ngga serem. Hehehehe….Kenapa sih mesti suka horror? Eh ini tapi terbukti membangkitkan selera makan saya, sounds so freak, huh? Ya buktinya kemaren sore lagi asik makan nasi goreng eh pas anak-anak di dorm lagi nonton Scream 4, langsung cepet abis deh makan saya, berasa tegang sih, jadi ngga berasa tau-tau abis aja. Huh absurd! Hahaha… Bagi saya sih, film horror itu hiburan semata. Yes, I am talking about entertainment only. Kalau ditanya horror bagaimana yang saya suka sih. Jawabannya saya tidak terlalu suka film yang berbau hantu. Tapi tergantung juga sih, kalau itu menarik saya suka. Tapi saya sendiri suka yang berbau psychological horror. Beugh bisa stress sendiri kalau nonton. Contohnnya aja waktu saya nonton Hallowen sendirian di bioskop beberapa tahun lalu. Wah stress sendiri, hahaha sampai-sampai tangan orang yang tidak dikenal disamping saya, saya remas. Hahaha maaf! Soalnya saya juga suka nonton sendirian sih ke bioskop.

Ada satu film juga yang menjadi favorit saya. Nah kalau yang ini memang seru. Judulnya Beneath, emang sih banyak yang ngga suka, tapi saya lumayan suka lah sama ni film, walaupun ujung-ujung bisa ketebak ceritanya, tapi saya suka cara merasuki pemikirannya. Ada lagi yang saya suka The Orphange, nah ini lebih lumayan deh. Kalau serunya nonton film yang bergenre pscyhological horror saya suka tegang sendiri, ya karena film ini sendiri dibuat untuk menaikkan emosi. Nah yang saya suka lagi film The Sixth Sense, yang diproduksi 1999. Setelah 10 menit pertama film ini perjumpaan antara Cole dan dokter, ini yang menarik, film ini diawalnya tidak menggambarkan hantu secara terang-terangan tapi bisa dirasakan. Ini serunya, ketakutan-ketakutan yang dialami Cole bisa dirasakan. Tapi yang bikin aneh diakhir cerita sih. Dan masih banyak film yang seperti itu saya suka deh, hehehehe… karena kalau menurut saya yang berbau pscyhogical horror cukup bikin stress sendiri kalau

nonton. Hahahaha..

Itulah seninya nonton film yang memacu adrenalin, selain film action. Yes, cause horror is about fear and tragedy, and whether or not one is capable of overcoming those things. Etapi ada sebuah pernyataan begini yang saya baca tentang horror dan humor. Katanya sih horror and humor are gym buddies. Because both work to stimulate that same place in our gutty-works, a place that defies explanation. Sometimes you don’t know why you think this thing is funny or that thing is scary. They just are. Susah emang menjelaskan antara cerita horor ama lelucon. Tapi keduanya itu similar, both have a set up, ask a question, and respond with a punch line or a twist. It’s just, they go in separate
directions — one aims for amusement, the other for anxiety. Ya kira- kira pernyataannya begitu sih.

Nah, kenapa saya tidak begitu tertarik dengan horror yang berhantu-hantu? Soalnya itu adalah jenis penggotakkan hantu, masa hantu yangdi Asia ama Eropa beda? Bihihihi…. salah seorang penulis juga mengatakandalam pernyataannya yang cukup nyeleh, dan saya lupa namanya namun dia bilang, we need new monster. The old monsters — vampires, zombies, ghosts, werewolves — have their place. They mean something. But they may also be monsters for another time. Never be afraid to find new monsters. Horror in this way is a pit without a bottom: you will always discover new creatures writhing in the depths, reflecting the time in which they are born. Just go to a Juggalo convocation or a Tea Party gathering. You’ll see. Begitulah katanya.

Kembali ke pscyhological horror, apa ini juga bisa masuk ke pscyhological thriller? Mmmmmh.. terbagi lagi sih di sini, karena antara misteri dan thriller itu beda bro, kalau misteri sendiri, memecahkan sesuatu yang sudah diketahui sumber permasalahannya, berarti di sini itu sudah ada pra-konfliknya. Tapi memang beda sih sama thriller, kalau thriller sendiri biasanya dikemas seputar kriminal atau bencana yang terjadi, sampai muncul penyelesaian yang bisa mengetahui gimana cara menghentikannya atau mencari solusi. But, the similar things between phscyological horror and thriller is also makes our palm sweaty sometimes, staying up night, and racing pulse. Ya kuncinya perbedaan terletak dari perspective. Etapi cerita cinta bisa jadi horror juga sih. Itu sih derita lo! Hahaha, kalau yang itu bercanda.

Tulisan ini tidak terlepas dari sebatas pengetahuan saya seputar horror dan sebagai penikmat film, memang saya harus banyak menonton lagi untuk belajar. Andai saja waktu menonton saya banyak, hehehe… tapi saya terus menekuni hobi nonton saya. Dan akhir kata shake up your anxieties and let them tumble onto the page. Because horror works best when horror is honest. The audience will feel that. Saya juga harus banyak belajar juga nih dan lebih tekun lagi. Hehehehe…

Boo!!

cioccolato

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s