Pindah dan seterusnya (lanjutan Penyiar Bola Bekel)

Satu langkah kecil untuk sekarang dan akan jadi satu lompatan besar untuk nanti. Pepatah yang sering di dengar, Lao Tzu juga bilang, A journey of a thousand miles begins with single step. Hidup ini sepertinya memang sebuah pengembaraan. Sejak gabung di radio, memang banyak sekali pengalaman yang bisa saya dapatkan, tahun 2010 saya mulai berpindah-pindah tempat, sampai sekarang. Ya seperti di post sebelumnya Kehidupan si Penyiar Bola Bekel yang saya post di bulan Maret lalu, dimana saat itu saya di pindah ke Sangatta, baru dua bulan deh sepertinya saya kembali ke Tenggarong eh sekarang harus siap-siap bertempur ke medan perang kehidupan lainnya.Penyesuaian standar kata, penyesuaian kehidupan, penyesuaian-penyesuaian lainnya itu wajib dipenuhi, dan beruntung saya mudah beradaptasi dengan sifat cuek saya ini, hehehe… Wah padahal baru hore-hore di sini, eh harus meninggalkan tempat ini lagi. Belakangan ini ada pikiran yang mengganjal otak saya sampai-sampai saya ngga bisa tidur, bukan karena terbiasa begadang, tapi kali ini beda, rasanya antara nyesek, bingung, pengen merem tapi mata ini tetap wide awake kaye judul lagunya Katy Perry. Grusak-grusuk, bolak-balik wudhu, sholat, minum air, bolak-balik wc pengen pipis, dengerin mp3, baca buku, dan usaha-usaha lainnya, tetep aja susah merem. Haduh apa yang mengganjal? Saya mikirin Ibu saya juga sih, pertama begini, keadaan rumah sekarang lagi ngga kondusif. Ibu dibilang sendirian sih ngga ada ponakan, tapi kalau saya bolak-balik Samarinda-Tenggarong kadang juga ngga bisa ketemu mereka, lalu kalau pulang ke rumah juga ngga ada siapa-siapa. Terus bolak-balik kadang menguras transport juga, dan seterusnya.

Tapi kalau pindah juga jadi kepikiran, kalau di rumah terjadi apa-apa karena jaraknya nanti akan lebih jauh lagi, mau balik juga jauh, dan seterusnya, nih ini nih, kalau dipikirin terus-terusan emang ngga ada habisnya. Sekarang sih saya pinggirkan dulu deh urusan hati, lagian juga ngga penting-penting amat, kadang kalau ngotot nyari jodoh juga tanpa dibarengi kesabaran hasilnya juga nihil. Sayanya capek sendiri toh? Sekarang saya mikir, kalau misalnya saya pindah, paling ngga bisa sedikit tenang, walau ini kesannya egois ya, tapi saya berusaha tidak terlalu mencampuri urusan orang tua saya, toh nanti ada waktunya cuti buat dihabiskan bareng mereka. Keadaan begini juga nuntut saya buat survive, gimana cara saya buat bertahan hidup yang sekarang tanpa dicampuri orang tua. Saya maklum kok karena mereka sekarang juga sedang begitu adanya, saya sebagai anak juga ngga menuntut untuk minta ini-minta itu dari ortu. Alhamdulillah sudah bisa membiayai kehidupan sendiri. Saya paham keadaan mereka, nah perkataan boss saya juga terkadang ada benarnya. Toh masa diusia yang sudah menginjak 22 tahun ini harus ketergantungan terus sama ortu.

Berpindah tempat memang terkadang bikin kita jadi asing, karena kita ngga kenal dengan medan, tapi berpindah tempat itu nanti jadi hal yang biasa bagi saya, karena hampir beberapa tahun belakangan saya berpindah-pindah, bersyukur karena selalu ada jalan, dan juga hidup saya ngga terkatung-katung. Ini udah jadi hal yang biasa, saya juga curhat sama teman saya Mas Adin, terkait kebimbangan saya buat mutasi, karena “betah” di sini. Dia bilang hidup ini ngga bisa diprediksi, dan harusnya kita bersyukur dikasih kesempatan buat berpindah-pindah. Iya juga sih, masih diberi pekerjaan ini. Ya paling ngga sekarang sudah sedikit tenang, yang pasti sih setiap tempat memberikan kenangan-kenangan tersendiri, kalau ditanya kamu lebih suka berada di mana dan compare antara tempat satu dan tempat lainnya, saya cuman bisa jawab, semua tempat bikin saya betah, karena setiap tempat punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Di Tenggarong misalnya, kelebihannya memang saya bisa bolak-balik ke rumah. Tapi ya seperti tadi yang saya ketik, setiap tempat punya plus minus nya sendiri, tergantung gimana cara kita membetahkan diri berada di tempat-tempat baru. Aaaaah… jadi pengen nangis nih sebenarnya ninggalin radio ini dan berpindah ke tempat lain. Hihihi as always, walaupun masih beberapa minggu lagi. Semoga aja sih orang tua saya memberikan support dan mengerti kenapa anaknya ini harus berpindah-pindah tempat. 🙂

Jika kamu membiarkan keraguan itu singgah, seumur hidup kamu tak akan pernah mendapatkan apapun yang kamu inginkan. Yakin itu sama dengan niat. Harus di awal bukan di tengah-tengah, apalagi akhir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s