Menghadapi Ujian, Why Not?

Sebagai manusia, yang namanya ujian itu pasti kita hadapi. Dan buku ini benar-benar recommended sekali buat kita-kita yang lagi dirundung rentetan-rentetan ujian. Buku ini juga membantu kita menyelami perlahan makna ujian yang diberikan kepada kita. Mungkin orang menilai saya fun-fun saja menghadapi hidup, sebenarnya dibalik kecerian, setiap orang pasti menyembunyikan sesuatu yang besar yang pernah dihadapi dalam kehidupannya. Nah, cara menghadapi masalah, cobaan, atau ujian pasti berbeda-beda. Ya, ini dikarenakan hidup adalah pilihan. Kalau kita memilih ingin berubah menjadi baik, memang saya akui, itu sulit sekali. Namun kalau kita ngga menjadikan hal tersebut menjadi sebuah habit, susah juga. Apalagi menjaganya menjadi sebuah konsistensi.Namun, di dalam buku ini, benar-benar mengajak kita mengenal kembali Tuhan kita, mengenalkan kembali Sang Pemilik kehidupan kita, ada alasan-alasan mengapa kita diuji. Ya sih, kalau hidup ini ngga diuji ngga bakal ada tantangan. Ujian dari Allah ternyata bukan hanya hal-hal yang menurut kita menyedihkan, menyakitkan dan lain. Nyatanya, di kala kita sukses, di saat kita senang, kadang Allah juga menyertakan ujian itu. Buku ini bagus untuk kita yang ingin mencari jalan keluar dari ujian yang sedang kita hadapi. Buku yang berjudul asli Hikmah al-Ibtila dikarang oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Siapakah beliau?

Beliau dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat, di Zara, perkampungan Hauran, sebelah tenggara Damsyq (Damaskus) Suriah. Mendapatkan pendidikan intensif dari kedua orangtuanya, oleh sebab itu, Ibnu Qayyim tumbuh dengan wawasan dan pengetahuan yang luas. Dari ayahnya, Ibnu Qayyim belajar ilmu faraidl karena sang ayah memang sangat menonjol dalam ilmu itu. Selain itu, dia belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab Al-Mulakhkhas li Abil Balqa’, kitab Al-Jurjaniyah, juga sebagian besar kitab Al-kafiyah was Syafiyah. Kepada Syaikh Majduddin at-Tunisi dia belajar satu bagian dari kitab Al-Muqarrib li Ibni Ushfur.

Ibnu Qayyim juga merupakan seorang peneliti ulung. Dia mengambil semua ilmu dan segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir. Kemudian disusunnya kitab-kitab fikih, kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisannya sangat banyaknya, dan keseluruhan kitab-kitabnya itu memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanya Ibnu Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung.

Beberapa karya besarnya antara lain; Tahdzib Sunan Abi Daud, I’lam al-Muwaqqi’in an Rabbil Alamin, Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban, Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan, Bada I’ul Fawa’id, Amtsalul Quran, dan Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina Wajhan.

Awalnya saya mengetahui beliau dari seorang kawan yang mengajak saya ke toko buku, awalnya saya menemani dia untuk membeli buku yang berjudul, Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, awalnya saya malah nolak abis-abisan karena memang lagi “medicine” hehehe… eh kesininya saya colong-colong baca di perpustakaan ternyata karya beliau sangat indah. So I decided to find another book. Bertemulah saya dengan buku ini. Sebagai pelengkap saya, jujur. Saya ini juga masih belajar, belajar menjadi seorang muslimah yang ingin lebih taat lagi. Ujian memang kadang membuat kita kecewa, dan dari kekecewaan itu jika tidak kita obati, ternyata akan berdampak buruk juga lama-kelamaan buat hidup kita. Alhamdulillah buku ini juga membantu saya. Menurut salah seorang kawan saya, yang saya suruh membaca buku ini juga, buku ini memang karya klasik, karena lama, namun ternyata sangat berguna buat menghadapi persoalan-persoalan kekinian. Berlaku sepanjang jaman, karena ditulis berdasarkan pandangan Al Quran. 

Kalau dibahasakan bahasa saya sih kira-kira begini, hidup ini emang berat men, tapi kalau diratapi mulu, diisi sama hal-hal yang membuat kita makin terpuruk itu bakalan ngga nyelesaiin masalah. Jawaban buat tetap kuat ya berdoa, it’s really work dude. Alhamdulillah ya, jika kita mengembalikan semua masalah kepada Allah, Insya Allah, semuanya akan menjadi lempeng, hidup kita juga adem, asalkan emang kita siap buat mendedikasikan hidup kita buat taat kepada-Nya. Masalah yang saya hadapi di hidup saya juga sama berat kok, tapi saya percaya kalau Allah selalu memberikan ujian yang sesuai takaran umatnya. Kalau ujiannya besar, berarti kita orang yang “besar” juga. Pasti kok ada jalan keluarnya. Maha Benar firman Allah, “Ambillah apa yang Kuberikan padamu dan jadilah orang yang bersyukur.” (QS. al-A’raf : 144). Jadi memang Allah sudah menyiapkan kapasitas-kapasitas yang luar biasa untuk umatNya. Dan sekarang bagaimana cara kita memandang aja atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita.

Setiap orang pasti merasakan ujian, baik mukmin maupun kafir. Namun, kaum mukmin akan merasakan penderitaan di dunia terlebih dahulu, tetapi pada akhirnya akan merasakan buah yang manis, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, orang kafir, munafik, dan pendosa akan merasakan kenikmatan dan kesenangan terlebih dahulu, tetapi ujungnya mereka merasakan penderitaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s