Ketika Perempuan Pecicilan (memutuskan) Menikah

Menyandang gelar perempuan “pecicilan” ya memang tepat sih, soalnya saya tipikal orang yang ngga bisa diem, dalam rangka pamitan dan resign ke big obos, terjadilah obrolan antara perempuan berusia 30an dan 23 tahun di ruang tamu rumahnya. Sebelumnya juga saya bilang saya pengen nikah di usia muda. Memang sih yang namanya menikah adalah keputusan setiap orang. Dan bila jodoh udah datang kita juga tidak boleh menolak, urusan jodoh bukan manusia juga yang jamin, karena rejeki, jodoh dan kematian itu mutlak milik Allah. Awaite balik lagi ke obrolan, yang intinya adalah ngga sayang di usia muda begini menikah, dimana saya juga adalah wanita yang aktif, suka berpergian, suka berkecimpung dikegiatan seni dan berkumpul dengan teman-teman seni. Apa ngga sayang meninggalkan dunia itu begitu aja?


Ini kejadian sama seperti sewaktu saya mengenakan kerudung, isinya semua “ngga sayang?”. Menikah, memang keputusan sekali seumur hidup (maunya seperti itu) dan diusia muda, berarti saya akan menjalani sisa hidup saya bersama orang yang sama setiap hari dan setiap waktu, ngga takut bosan? Jawabannya ngga, menikah atau belum menikah ngga akan ngubah hidup saya, malah membuat hidup akan lebih baik. Saya punya satu orang lagi yang spesial dong dalam hidup saya, yang bisa ngelindungi saya dan lain-lain.

Dalam menikah nanti kamu bakal kehilangan masa-masa dimana waktu kamu sendiri, dan mau ngga mau kamu harus memaksakan diri untuk menyukai dunia yang baru, well, itu kata beliau, namun pendapat saya ada baiknya semua hal dibicarakan dengan pasangan kita secara baik-baik, maunya suami apa, maunya istri apa, betul tugas seorang istri adalah menaati suami, udah gini mikirnya, pikirkan pahala yang didapat oleh istri, menikah itu sunnah, why not kalau buat nambah-nambah pahala. Untuk kegiatan sebagai wanita yang aktif semasa sebelum menikah, ada baiknya dikonsultasikan bagaimana nih agar kita ngga kehilangan kegiatan itu, makanya ada ta’aruf dalam Islam, ada kesempatan buat mengungkap segala visi-misi sebelum menikah, mungkin orang jaman sekarang menyebutnya dengan perjanjian pra nikah.

Nah sebetulnya perjanjian pra nikah ini perlu ngga sih? Kalau dalam Islam sih yang saya tau semua hal berkenaan tentang diri kita dan pasangan diungkapkan dalam proses ta’aruf itu (bagi yang ta’aruf) biasanya dengan CV, terus bikin CVnya memang harus panjang lebar, baik dan benar, sejujur-jujurnya, dan jangan tutupi (ntar nyesel loh kalau nutup-nutupi). Kalau yang saya jalani sih, walaupun sering debat belakangan ini, saya biarkan dulu deh maunya si calon apa, dia juga saya minta untuk konsultasikan kepada Ibu saya. Kalau semuanya mulai ngga sreg dengan apa yang saya mau, ada baiknya untuk menempuh jalan diskusi, semua memang harus dikompromikan dan jangan sampai terjadi keputusan sepihak. Karena itu ngga adil dong. Suami juga harus bisa jadi partner yang solid, dan kuncinya ya ngga boleh egois juga, harus menjadi pendengar yang baik juga, jangan cuma hanya mau didengerin. Karena urusan komunikasi kalau salah dikit aja semua bisa jadi runyam. Yang penting kudu ciptakan suasana sinergi antara suami dan istri. Saling dukung.

Ya buat yang ingin menikahi perempuan-perempuan lincah, ada baiknya untuk memberikan waktu untuk menggapai apa yang diimpikannya, tapi saya rasa menikah bukan sebuah beban, menikah bukan sebuah benteng penghalang untuk melakukan apa yang ingin kita raih, liat aja beberapa perempuan hebat masih bisa mempertahankan rumah tangganya dan mewujudkan impiannya, karena ada keseimbangan antara kehidupan rumah tangga dan hal yang ingin dicapai. Jangan khawatir deh pokoknya, menikah itu enak kok. Bener juga sih menikah itu kaye kita pake kerudung, terlindungi. Hihihihi… 🙂 Yang penting setelah menjadi seorang istri, kita harus tahu nih batasan-batasannya. Jangan kelewatan dalam pergaulan juga, inget suami… Mengakhiri masa lajang, why not?

Advertisements

One thought on “Ketika Perempuan Pecicilan (memutuskan) Menikah

  1. Selamat menjalani masa ta’aruf yg apa adanya……
    Menikah muda atau tidak, yg terpenting khan siap dg segala resikonya saja….
    Itu pilihan, tapi Allah yang menentukan……..
    *artinya tdk mutlak hak Allah SWT.
    wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s