Mlaku-mlaku: 3 Bulan di Yogyakarta

Mungkin ini akan jadi agenda dalam hidup saya, dan moga saja. Karena hidup berpindah-pindah tempat banyak sekali mengajarkan hal yang belum tentu kita temui saat berdiam diri atau menetap di suatu tempat. Ya, setelah beberapa petualangan hidup yang saya lalui, kali ini saya mengenal dekat kota Yogyakarta, hanya bermodalkan “nekad” dan “passion” akhirnya 3 bulan sudah saya lalui hidup di kota ini. Bisa dibilang tinggal di Yogyakarta hanya untuk bersenang-senang saja.Dari pengalaman teman-teman bule saya yang suka traveling saya belajar, buat bertahan hidup ya harus bisa adaptasi. Untungnya Tuhan memberikan saya kemudahan dalam beradaptasi dimanapun tempatnya, dan kunci itu bernama “tidak mengeluh”. Kalau kita tidak mengeluh pastinya bisa kok tinggal dimanapun kita mau. Cerita lain, di Yogyakarta, saya memutuskan untuk belajar merajut, dan dengan modal “nekad” lagi sebagai beginner saya juga memutuskan mendaftar sebagai parttimer di Poyeng Knit Shop, di sini tentunya saya mendapatkan teman baru, alhamdulillah sekarang saya bisa bergaul dengan perempuan, sebelumnya teman saya kebanyakan laki-laki. Hehehe…. dan ini juga ilmu yang saya ambil dari teman saya yang suka traveling, kalau mau betah yah sambil parttime, hehehe. Mendapatkan kos di rumah mertua teman saya, itu sangat membantu, apalagi saya hanya membayar Rp 275.000 per bulan dan itupun sudah kamar mandi dalam, whoaa banget bagi saya. Saya juga bukan orang mempermasalahkan udara, mau panas atau dingin tidur saya tetaplah nyenyak. Oiya, sesaat saya tinggal di Yogykarta, saya membeli Selly (sepeda lipat) yang saya dapatkan seharga Rp 800.000 ada cerita lucu dibalik itu.

Saya bermaksud membeli sepeda bekas, dan saat itu Yogyakarta lagi rame isu “preman”. Banyak spanduk bertebaran di sudut kota, saya mendatangi salah satu pasar sepeda bekas *ngga saya sebut lokasinya*. Lalu saya melihat-lihat sepeda sembari menawar, saya bilang kepada penjual saya mau lihat-lihat dulu, tetapi si penjual keburu meminta identitas saya, dengan alasan ingin mencatat alamatnya, saya meminta identitas saya namun orang itu tidak memberikan, padahal belum ada kesepakatan jual-beli, bahkan ijab belum terucap, voila, KTP saya ditahan, lalu orang tersebut meminta uang sebesar Rp 50.000 untuk menebus KTP dengan alasan untuk VOID sepeda yang sudah saya pilih. Meeen…. saya dipalak ini. Saya kemudian menelepon calon saya, “Mas ini gimana KTP saya ditahan, bla bla bla….” kemudian si pemilik kedai bilang tebusannya Rp 30.000 kok mba bukan Rp 50.000, saya akhirnya ngotot, dan saya tetap mengobrol dengan calon saya via telepon dan pada akhirnya saya terus menuntut KTP saya, akhirnya saya mendapatkan kembali secara cuma-cuma, saya akhirnya memetik pelajaran dari kejadian tersebut. Dan sepeda yang incar (bekas) itu seharga Rp 700.000 eh ternyata barunya cuma selisih seratus ribu. Hahahaha… untung saja ngga jadi dapat bekas.

Dengan sepeda itu saya akhirnya bisa berkeliling Yogyakarta, sesekali saya pergi kerja dengan sepeda itu, tempat kos saya berada di daerah Timoho dan tempat kerja saya di Monjali, cukup satu jam saya perlukan, itupun sudah termasuk waktu istirahat. Menyenangkan sekali. Di tempat kerja pun saya belajar banyak, belajar mengenal karakter orang yang berbeda-beda dan bagaimana cara meng-handle orang-orang tersebut. Selain itu saya juga jadi mengenal dunia rajut-merajut. Hiiii saya berasa jadi perempuan tulen kemudian.

Rumah Mertua

Episode lain saat saya tinggal di Yogykarta adalah bisa berpergian ke daerah mana saja yang saya suka. Dan belakangan sebelum saya pulang kembali ke Samarinda, saya beberapa kali mengunjungi rumah calon mertua saya yang berada di Pekalongan sendirian. Tanggal 25 Juni lalu tepatnya, saya berada di Pekalongan beberapa hari, alhamdulillah calon mertua saya sangat welcome terhadap saya, saya senang, apalagi sekarang ada kucing lucu bernama Merry (panggilan dari Ibu, Kenti: kalau Bapak manggilnya gitu). Dan saya mulai membiasakan diri dengan cara hidup mereka tentunya. Alhamdulillah ya Allah, karena menganugerahkan kemudahan adaptasi, termasuk makanan. Hehehe saya tipikal pemakan segalanya selama itu halal. Kegiatan harian pun jadi berubah, menjadi menyenangkan tentunya, gimana ngga, subuh-subuh udah bangun terus diajak sarapan di pantai, seru banget bisa sarapan di tempat yang strategis untuk menyaksikan matahari terbit, sayang handphone saya rusak jadi tidak bisa mengabadikan moment-moment berharga. Dan rencananya awal bulan Juli saya diajak ke arisan keluarga. Wah ini membuat saya senang lagi, karena saya bisa semakin dekat dengan keluarga calon saya. Yah, perjalanan bolak-balik Yogyakarta-Pekalongan akhirnya memuaskan hati juga, jadi saya juga bisa menghapal jalan. 

Yah, begitulah kira-kira pengalaman hidup saya tinggal di kota Yogyakarta, entah setelah ini kemana lagi kaki saya akan melangkah, yang jelas pelajaran hidup siap memberikan pengalaman berharga untuk diri saya. Saatnya bersiap-siap kembali ke rumah tercinta dan fokus menjalani ibadah shaum di bulan Ramadan.

Ramadhan Mubarak! 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s