Memulai Babak Baru

Akhirnya, status saya sudah berubah, tepatnya di tanggal 15 September 2013, pukul 08.00 pagi. Pagi yang hectic itu, semua kalang kabut, takut terlambat pergi ke masjid dan ketika menuju ke masjid untuk melangsungkan akad, tangan saya makin dingin, takut kalau saya tidak bisa menahan haru, karena saya orang yang cengeng, tepat, tamu undangan sudah memenuhi masjid, rekan kerja, sanak saudara, dan entunya tetangga hadir di situ, memang saya mengundang sedikit orang hari itu, karena saya ingin momen ini lebih intim saja.

Sebelumnya, hari ini adalah hari yang saya nantikan, semenjak saya menantang seorang pria yang bernama Hajam Zakaria untuk berani menikah, dan dia membuktikan itu, dia berani juga, setelah banyak hal yang saya lewati, seperti keraguan-keraguan, ketakutan, dan lainnya seakan luntur saat saya mulai memasuki masjid yang tidak jauh dari kediaman saya itu, ya semuanya luntur, yang ada keyakin karena Allah SWT. Insya Allah dengan adanya pernikahan ini kami bisa mewujudkan cita-cita bersama, akhirnya setelah ijab qabul yang diwarnai dengan kejadian “ngakak” selesai, wadoooow karena menahan haru, akhirnya penghulu membuat lelucon dan saya ngakak. Campur aduk rasanya.

Well talking about marriage, pasti ada walimah, saya ingat sebuah drama series yang saya tonton dimana ada obrolan antara Ayah dan Anak, dimana anaknya (laki-laki) ingin menikahi seorang perempuan yang dia cintai, ini versi translatenya sih….

Son : Cuman 500 orang kok yah,
Dad : Tenda besar, makanan yang enak, dekorasi, itu akan menjadi pernikahan yang indah yang bisa kamu kenang, nak. Seumur hidupmu.

Son : Bukan itu, yah. Yang aku inginkan hanya dia yang ingin aku ingat seumur hidupku bukan acaranya.

Maunya sih gitu juga yah, setiap orang tua rata-rata ingin mengingat “acara” ketimbang kesakralan dari acara tersebut, mungkin hal ini yang saya rasakan juga, namun saya pelan-pelan membicarakan makna dari untuk apa acara pernikahan di gelar, memang tidak sedikit dari masyarakat masih menganggap pernikahan harus mewah karena sekali seumur hidup. Wah-wah, kalau mewah terus menyusahkan gimana? Pikirkan kembali babak setelahnya, ngga mau dong sampai nguras tabungan terus bingung setelah nikah? Ya, memang nikah untuk sekali dalam seumur hidup, kemasan bagi saya tidak penting, yang penting halalnya.

Ini mengenai memperjuangkan cinta, daripada mempersulit menuju halal, lebih baik apa adanya saja, alhamdulillah, walau harus sedikit berdebat, akhirnya pernikahan kami yang sederhana terwujud juga, hehehe… dengan memanfaatkan jasa dari seorang teman yang saya percayakan mengurus masalah kelengkapan untuk walimah, dan mempercayakan kepada Ibu saya menjadi kepala chef, karena kita masak sendiri, ngga pake catering, alhamdulillah tamu undangan puas, terlihat lahap ketika makan, nah inilah point yang penting dalam acara pernikahan, bisa ngga sebenarnya kita memberikan service kepada tamu-tamu kita.

Saya mendapatkan sebuah hadiah dari seorang teman saya, buku karangan Ustadz Salim A Fillah, disalah satu babnya mengatakan, sebenarnya pengantin bukan untuk dipajang, harusnya bisa melayani tamu undangan, InsyaAllah lelah yang diperoleh pasangan pengantin dalam melayani tamunya menjadi pahala. Nah hal ini yang ingin saya lakukan kemarin, mengingat kurangnya tenaga di rumah, namun sayang, masih terbentrok oleh kebudayaan entah berasal dari mana yang mewajibkan pengantin di pelaminan. Fuuuuh….

Tapi ngga apa-apa, toh jadi cerita juga dan pengalaman, dan hal terpenting sekarang adalah memulai babak baru dalam kehidupan saya sebagai istri. Di sini perjuangan baru dimulai, mau bagaimana cara membangun rumah tangga, itu adalah tanggung jawab kita berdua, sebagai istri mempunyai banyak tugas, apalagi kelak saya menjadi Ibu, ada sebuah kalimat yang tentunya kita selalu ingat, “Surga di telapak kaki Ibu” kalau saya artikan ini adalah sebuah amanah, dimana ketika menjadi seorang Ibu kelak, saya bertugas membimbing anak saya, mau saya ajak melangkah kemana anak saya? Jelas kalimat tersebut juga memberikan tujuan yang jelas, bagaimana cara mengajak anak untuk melangkah ke sana, ini yang sedang saya pelajari mumpung masih diberi kesempatan berdua-duaan. Tentunya dengan begitu, banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk belajar.

Well, saya sudah menapaki selangkah lagi, dan tanggung jawab saya bertambah tentunya, semoga kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan hidup kita. Dan untuk yang masih singel, yuk mulai belajar nih tentang fiqih pernikahan, karena walimah diadakan bukan juga untuk menyusahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s